Menjajal Komuter KRD dan KRL

Menjajal Komuter KRD dan KRL

Dulu, kami heran dengan warga di negara-negara maju, seperti di Eropa, Amerika, Korea Selatan, dan seterusnya. Mereka itu jauh lebih makmur dari kita, tetapi justru memilih naik komuter untuk berangkat-pulang kerja. Mau-maunya berdesak-desakan dan bergerah-gerah di kendaraan umum.

Beberapa tahun yang lalu, tersiar catatan viral di media sosial bahwa di Jepang, mereka yang suka naik mobil pribadi itu justru orang-orang udik. Mereka petani, pekebun, orang desa, dan semacamnya. Orang-orang kota justru memilih naik komuter.

Kami langsung, “Hah?” Ini Jepang, lo! Negara produsen otomotif dunia! Kenapa mereka tidak berlomba-lomba punya mobil dan motor keluaran terkini? Malah naik transportasi umum. Bukankah yang umum-umum itu tidak keren? WC umum, contohnya.

Namun, lama-lama, kami tahu sendiri jawabannya. Terutama setelah berpuluh-puluh tahun tinggal di kota metropolitan (Surabaya dan Bandung), bahwa sesungguhnya tidak enak merasakan macet setiap hari itu. Yayah bahkan memutuskan berhenti bekerja di kantor dan menjadi penulis lepas, salah satunya demi menghindari terjebak macet setiap hari.

Kalau setiap warga, yang setiap hari bertambah karena ada kelahiran, memutuskan memiliki kendaraan pribadi, sementara jalan-jalan tidak mungkin dibangun lagi karena keterbatasan tanah, tentu saja kita terus akan mengalami kemacetan. Sampai kiamat pun akan terus macet! Bahkan, bukannya macetnya menyurut, dijamin malah semakin parah.

Jadi, solusi sederhana untuk mengurai kemacetan sebenarnya adalah dengan menahan diri untuk tidak membeli (atau mengendarai) kendaraan pribadi. Sebagai gantinya, gunakan kendaraan umum! Misalnya, komuter atau kereta yang menghubungkan satu kota dengan kota lain atau stasiun satu dengan stasiun lain dalam kota.

Sebagai generasi langgas, kami ingin mengenalkan tren ini kepada Ara dan Kira. Kami ingin membiasakan mereka dengan transportasi ala urban di negara-negara maju ini.


Transportasi Umum Massal: Tren di Negara-negara Maju


Kereta komuter menghubungkan tempat-tempat strategis di suatu kota, bahkan dengan kota-kota sekitarnya. Di Indonesia, armadanya bisa berupa Kereta Rel Diesel (KRD), Kereta Rel Listrik (KRL), atau rangkaian kereta ekonomi biasa.

Di negara-negara maju, transportasi semacam komuter sudah menjadi moda favorit, bahkan di kalangan kaum menengah dan atas yang sebenarnya mampu membeli kendaraan sendiri.

Sayangnya, itu belum terlihat di Indonesia. Warga menengah di sini umumnya lebih bangga mengendarai motor atau mobil pribadi. Akibatnya bisa ditebak, lalu lintas di kota-kota besar Indonesia sering macet parah, tidak peduli sudah berapa kali jalan-jalan aspalnya diperluas sekalipun.

Mau sampai kapan begini terus?

Jadi, kalau memungkinkan, yuk, naik kereta komuter untuk sehari-hari. Hitung-hitung, langkah ini untuk membantu pemerintah dalam mengatasi kemacetan jalanan kota.

Biasanya, tiket kereta komuter hanya bisa dibeli lewat loketnya di stasiun. Jadi, tidak bisa secara daring (online). Maka, berangkatlah kami menuju stasiun pagi itu.

Selain membiasakan diri naik kendaraan umum massal, Ara juga belajar antre dan membeli tiket kereta di stasiun. Belajar sabar untuk menunggu juga. Meskipun, namanya juga anak-anak, sudah tidak terhitung berapa kali dia mengeluh, “Kok, keretanya datangnya lama?”


Kereta Rel Diesel (KRD) yang Ternyata Kereta Biasa


Sebagaimana namanya, KRD bertenaga diesel. Untuk komuter, seharusnya model rangkaian keretanya tidak sama dengan kereta ekonomi diesel jarak jauh. Namun operator kereta sering menggunakan kereta ekonomi biasa untuk tujuan komuter (berkeliling dalam jarak dekat). Mungkin mereka kehabisan rangkaian, sementara rute komuter tetap harus dilayani.

Ciri kereta ekonomi jarak jauh (yang seharusnya tidak dipakai untuk komuter) adalah tidak ada pegangan tangan di atas. Sehingga, seharusnya tidak ada penumpang berdiri. Karena akan melelahkan kalau rutenya jarak jauh, tetapi ada penumpang yang disuruh berdiri.

Ketika kereta ekonomi jarak jauh ini dipaksakan untuk melayani rute jarak pendek, apalagi ada tiket berdiri dan berdesak-desakan, keamanan penumpang pun kurang terjamin.

Namanya juga komuter, kereta pasti sering berhenti di stasiun-stasiun kecil. Nah, pas mengerem, penumpang sulit untuk menjaga keseimbangan, karena memang tidak ada pegangannya. Begitu pula ketika kereta bergoyang-goyang atau melewati bidang miring.

Itu dialami oleh Yayah dan Ara. Mereka tidak kebagian tempat duduk, jadi harus berdiri. Bunda dan Kira lebih beruntung, karena ibu menyusui (dengan balitanya) selalu diprioritaskan untuk duduk. Meskipun ada saja laki-laki muda yang pura-pura tidur, supaya tidak perlu memberikan tempat duduknya.


Berdebar-debar Naik Kereta Rel Listrik (KRL)


Sepengetahuan kami, KRL Indonesia hanya ada di Jabodetabek. Jadi untuk menaikinya, mau tidak mau, kami harus pergi ke salah satu stasiun di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, atau Bekasi.

Sistem KRL lebih canggih daripada KRD, baik untuk kereta, ticketing, maupun peronnya. Untuk membeli tiket KRL, kita tinggal datang ke stasiun dan cari mesin penjual otomatisnya. Atau, kalau mau manual, cari saja loket Commuter Line.

Tarifnya bergantung seberapa jauh tujuan kita. Selain itu, ada opsi apakah kita mau membeli tiket harian (THB/Tiket Harian Berjaminan) atau tiket terusan (Kartu Multi Trip/KMT) yang bisa diisi ulang. Tiket harian lebih murah dibanding tiket terusan. Namun kalau Anda setiap harinya naik KRL, lebih baik membeli KMT sekalian, karena jatuhnya akan lebih hemat.

Selain biaya tiket, kita juga akan dimintai biaya jaminan kartu magnetik. Nanti, setelah kartunya kita kembalikan di loket stasiun tujuan, uang jaminan itu bisa kita minta lagi.

Kartu magnetik berguna untuk melewati pintu elektrik peron KRL. Di pintu masuk peron, Anda akan dihadang oleh palang besi putar yang dikendalikan oleh mesin otomatis.

Kalau sudah punya kartu magnetik Commuter Line, pegang kartu itu dengan tangan kiri, karena mesinnya selalu ada di sisi kiri. Tempel di bagian barcode atau kode batangnya di mesin itu sampai lampu hijau menyala. Lalu, segera dorong besi putarnya dan masuk.

Sekarang, Anda sudah berada di dalam peron KRL. Gunakan tiket magnetik dengan bijak sesuai tujuan. Namun, Anda juga bisa berimprovisasi. Contohnya kami, saat itu dari Stasiun Bogor hendak ke Stasiun Pasar Senen Jakarta. Sebenarnya, perjalanan bisa langsung dicapai dengan sekali naik kereta.

Namun, KRL kami yang jalur kuning datang terlambat. Padahal, kami diburu waktu. Kereta pulang kami berangkat pukul 13.40 di Pasar Senen. Agak mendebarkan, memang.

Seorang sekuriti di stasiun menyarankan kami naik KRL yang sudah ada (jalur merah) saja. Nanti, di Stasiun Manggarai turun, dan oper lagi ke KRL menuju Stasiun Jatinegara (jalur biru).

Dari Stasiun Jatinegara, kami tinggal melanjutkan sedikit naik KRL jalur kuning menuju Stasiun Pasar Senen. Walaupun rutenya tampak lebih merepotkan, kata petugas itu, waktu sampainya akan lebih cepat.

“Kalau pakai KRL yang rencana awal ini, Bang? Jadwal kereta saya jam 1.40 bisa terkejar?” tanya Yayah.

“Nggak yakin, mah, saya,” jawabnya pesimistis. “Karena meskipun langsung ke Senen, KRL itu, kan, ambil jalur memutar. Sementara saya barusan dapat kabar, sampai jam segini keretanya baru di (sekuriti itu mengucap nama lokasi yang kami tidak jelas). Kalau dari situ, nyampai sini ya setengah jam lagi, Pak.”

Waduh! Jadi, kami harus naik-turun KRL biar terkejar?

Kami tidak yakin dengan ini. Masalahnya, baru pertama ini kami naik KRL. Takutnya, kami terlewat atau salah turun, sehingga malah buang-buang waktu!

“Jadi, bagaimana, Bunda? Pilih nunggu kereta sesuai tiket atau ambil risiko sedikit berpetualang?”

“Menurut Yayah?” Bunda malah bertanya balik.

“Aku, sih, sreg dengan saran Mas tadi.”

“Tapi, kalau nyasar? Atau salah perhitungan? Malah lama, lo. Bisa-bisa malah gagal pulang karena ketinggalan kereta,” Bunda terlihat ragu.

“Daripada gagal pulang setelah diam nggak melakukan apa-apa, mending gagal pulang setelah berusaha.”

“Jadi, mau ambil risiko?”

“Yap, biar jadi cerita juga! Ayo, cepat kita putuskan, sebelum kereta itu berangkat,” Yayah menunjuk KRL jalur merah, “yang artinya, kita bisa kehilangan alternatif lain untuk ke Senen.”

Bunda menoleh ke Ara. Namun putri sulung itu masih lima tahun, belum bisa diajak berdiskusi berdasarkan pertimbangan ilmiah. Apalagi Kira yang tahunya hanya nenen dan ketawa-ketawa. Praktis, keputusan hanya di tangan Yayah dan Bunda.

“Ya udah,” Bunda akhirnya setuju. “Matikan kameranya. Pegangin Ara, bawa ranselnya. Yayah jalan di depan, ya!”

Begitulah, akhinya kami memutuskan mengambil risiko menuruti saran bapak sekuriti stasiun. Berhasil atau malah gagal, apapun konsekwensinya, biar nanti kami tanggung bersama. Yang penting, sekarang berusaha dulu!

Kami pun naik KRL jalur merah. Belasan menit kemudian, kereta berangkat.

Di atas kereta, sambil mengesampingkan ketegangan, kami mengambil gambar-gambar untuk vlog Homerie.

Kami juga mengobrol-ngobrol dengan keluarga lain, yang juga dari Jawa Timur, yang sudah lama tinggal di Jakarta. Dari merekalah, kami tahu stasiun untuk turun, sehingga tidak sampai terlewat. Alhamdulillah, perjalanan naik-turun KRL berjalan lancar, sehingga kami tiba di Stasiun Pasar Senen sebelum waktunya.

Ternyata, meskipun bolak-balik ganti kereta, kami tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan. Cukup dengan tiga kartu magnetik yang sama. Asalkan di stasiun-stasiun transit, kami tidak keluar dari peron.

Namun begitu tiba di Stasiun Pasar Senen, tentu kami memang waktunya keluar peron KRL. Sekali lagi, kami menemui pintu yang seperti saat masuk tadi. Cara membukanya sama. Namun kali ini, pegang kartunya dengan tangan kanan, karena mesinnya ada di sebelah kanan.

Setelah itu, kami juga masih sempat menukarkan kartu magnetik dengan uang jaminannya di loket Commuter Line.



Wah, seru juga ternyata naik komuter itu! Menambah pengalaman. Menambah cerita. Meski masih saja ada isu klasik kereta terlambat dan terbatasnya armada. Jadi, penumpang pun harus lama menunggu masing-masing keretanya.

Harapan kami, semoga rute dan armada kereta-kereta komuter ini ditambah, juga kenyamanan penumpang lebih diperhatikan. Ini supaya warga mau berbondong-bondong beralih dari kendaraan pribadi ke komuter. Seperti warga di negara-negara maju.

Mau tahu rangkuman audio visual perjalanan kami menjajal kereta komuter KRD dan KRL? Ini videonya….