6 Jurus Halau Stunting

6 Jurus Halau Stunting

Stunting” bukan bahan candaan. Tetapi istilah padanannya, yaitu “pendek”, “cebol”, atau “kerdil”, sudah lama dipakai sebagai olok-olok di kalangan masyarakat kita. Yayah pernah jadi korbannya saat SD. Ceritanya, suatu pagi di kelas, dia kesulitan mengambil penghapus di atas papan tulis, karena letaknya terlalu tinggi. Datanglah seorang teman yang jangkung, membantu mengambilkannya.

Baik sekali. Namun, sambil menyerahkan penghapus itu kepada Yayah, dia berkata, “Makanya, jangan pendek-pendek jadi anak!”

Waaah, sangat menohok dan nyelekit!

Yayah bukan tergolong cebol. Buktinya, saat dewasa tingginya 168 cm, lumayanlah untuk ukuran orang Indonesia. Tetapi masih saja diejek. Nah, apalagi generasi-generasi yang memang stunted!

Gagal tumbuh akibat malnutrisi ini kalau keterusan sampai dewasa, bukan mustahil akan menciptakan barisan panjang kurcaci Indonesia. Di film, televisi, atau panggung hiburan, orang-orang pendek barangkali tampak lucu dan menggemaskan. Namun dalam kehidupan riil?

Mohon maaf, sama sekali bukan bermaksud mendiskreditkan, ini hanya mencoba bicara ilmiah dan empiris. Umumnya, orang-orang yang tingginya di bawah rata-rata itu…
  1. Secara estetika, kurang sedap dipandang. Mengesankan fisik yang ringkih atau kurang sempurna.
  2. Kemungkinan besar, memang tidak tangguh. Kurang andal dalam melindungi diri sendiri atau keluarga. Dalam aktivitas fisik atau olahraga pun sulit bersaing. Kasus Lionel Messi, megabintang sepak bola yang tingginya “hanya” 1,7 meter tetapi sangat ditakuti lawan-lawannya, jangan dijadikan patokan. Itu kasus yang sangat jarang terjadi di dunia olahraga profesional.
  3. Wibawanya kurang. Rentan menjadi bahan gojlokan di sekolah, kampus, kantor, atau bahkan jalanan. Sebagaimana yang dialami Yayah ketika SD.
  4. Penghasilannya lebih rendah. Sebuah penelitian di Universitas Exeter Inggris menyebutkan, setiap laki-laki lebih tinggi 2,5 inci, gaji tahunannya meningkat 1.600 poundsterling. Entah ini karena pegawai yang jangkung tampil lebih percaya diri dan berwibawa atau memang atasannya yang diskriminatif.
  5. Sulit mengendarai motor atau mobil. Secara logika, mereka pasti keteteran menguasai kendaraannya. Bagaimana tidak, mengemudi mobil tidak ajek menginjak pedal, mengendara motor tidak mantap menapak tanah.
  6. Ada stunting yang badannya tidak kerdil. Dalam hal ini, otaknya yang gagal tumbuh. Anak seperti ini juga menderita kerugian-kerugian yang sama dengan stunting fisik. Karena daya pikirnya di bawah rata-rata.
Merugikan sekali dalam kehidupan sosial dan profesional, bukan? Karena itu, Ayah-Bunda, pastikan buah hati kita tidak ada yang stunted, terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupannya. Enam jurus ampuh untuk pencegahan stunting ini boleh dijajal…

Jurus #1: Perhatikan Asupan Gizi Ibu Hamil

Pencegahan stunting selalu bermula dari janin. Perkembangan bobot dan panjangnya bisa kita amati melalui ultrasonografi (USG). Dihitung secara manual dengan meteran dan timbangan pun bisa, sebagaimana ketika Bunda hamil Kira dan kontrol di Puskesmas.

Menteri Kesehatan Memantau Imunisasi di Bali
Sumber foto: SehatNegeriku.Kemkes.go.id

Pantau terus perkembangannya, supaya tahu bayi dan ibunya kekurangan gizi atau tidak. Ini untuk mencegah bayi lahir dengan bobot dan panjang di bawah standar. “Kalau bayi lahir pendek, maka ia berpeluang tubuhnya pendek,” begitu pesan Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek.

Jurus #2: Kenali Ciri Anak Stunted

Supaya praktis, datang saja ke Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) tiap bulan, untuk imunisasi maupun pemeriksaan umum. Petugas Posyandu sudah tahu apa yang perlu dilakukan.

Pendataan dan pemeriksaan bayi
Sumber foto: SehatNegeriku.Kemkes.go.id

Namun sebagai gambaran umum, berikut ciri-ciri anak yang mengalami stunting:
  • Lahir dengan berat kurang dari 2.500 gram dan panjang kurang dari 48 cm.
  • Dalam pertumbuhan berikutnya, badannya lebih pendek dan lebih ringan dari rata-rata anak seusianya. Bisa diperiksa di Buku Kesehatan Ibu dan Anak dari Posyandu, Puskesmas, atau dokter anak.
  • Proporsi badan tidak normal. Atau normal, tetapi wajah dan rasio tubuhnya lebih kecil.
  • Pertumbuhan tulang tertunda.
Namun jangan salah, bayi pendek tidak selalu berarti stunting. Banyak faktor yang membuat anak tidak tumbuh tinggi sesuai harapan. Contohnya, faktor hormonal atau keturunan. Misalnya, Yayah tingginya 168 cm dan Bunda 151 cm, agak aneh kalau mengharapkan bayi-bayinya lahir di atas 50 cm.

Yang perlu digarisbawahi, anak stunting itu penyebabnya malnutrisi di 1.000 hari pertama kehidupannya. Di luar faktor tersebut, anak tidak bisa dikatakan stunting. Apalagi kalau buah hati bawaannya ceria, lincah, dan tidak ditemukan infeksi.

Jurus #3: Perbaikan Gizi Anak Stunting

Yang paling mudah dan gratis adalah memberikan Air Susu Ibu (ASI). Pastikan orang tua memberikan ASI selama minimal enam bulan sejak bayi dilahirkan.

Setelah masa itu, usus bayi mulai dapat menerima makanan-makanan padat. Perlahan, berikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang bergizi seimbang, seperti bubur, jus buah, biskuit khusus, atau ikan.

Kandungan protein dan lemak baik ikan bagus sekali untuk mencegah stunting, entah untuk disantap secara rutin oleh si kecil maupun ibu hamil dan menyusui. Sebagaimana yang direkomendasikan Bu Menteri Kesehatan dalam video ini:


Kalau masih ditengarai anak mengalami stunting, jangan panik. Lakukan langkah-langkah antisipatif. Yang utama, tetap saja, perbaikan gizi. Kalau di Posyandu Ara dan Kira, anak yang habis diperiksa akan diberi kue, telur, minuman kacang hijau, atau lainnya.

Tetapi tentu saja “bonus” itu akan tandas dalam sekali lahap. Orang tuanya yang harus menyediakan asupan-asupan bergizi berikutnya. Mintalah saran kepada petugas Posyandu apa-apa yang perlu dilakukan untuk mengejar ketertinggalan nutrisi ini. Atau bila perlu, berkonsultasilah ke dokter spesialis anak.

Jurus #4: Buat Anak Selalu Bahagia

Menurut pakar endokrinologi, Aman Bhakti Pulungan, masalah badan pendek juga dapat disebabkan oleh faktor sosial. Kita lihat, provinsi yang dihuni manusia dengan postur tubuh tertinggi di Indonesia adalah Bali. Itu bisa jadi karena masyarakat di sana lebih bahagia kehidupannya.

Jadi, tidak ada salahnya, bahkan banyak untungnya, kalau kita selalu membuat anak bahagia.

Kepala Seksi Kesehatan Neonatal Kementerian Kesehatan, Nida Rohmawati, mengatakan hormon pertumbuhan akan keluar dengan optimal ketika anak merasa nyaman, bahagia, dan tidur cukup. Sebaliknya, bila anak stres atau habis dibentak, selama sekian jam produksi hormon tersebut akan terganggu.

Jurus #5: Biasakan Anak dengan Aktivitas Fisik atau Olahraga

Semakin otot dipakai, semakin mengembang dan padat massanya. Semakin jarang dipakai, semakin kendur dan mengecil. Jadi, olahraga pada dasarnya sangat baik untuk tumbuh kembang anak.

Meskipun olahraga untuk batita tentu berbeda dengan olahraga untuk balita, apalagi untuk remaja. Kalau untuk Ara yang sudah lima tahun, Yayah dan Bunda sudah bisa mengajaknya lompat tali.


Namun untuk Kira yang baru dua tahun? Sekadar memanjat, kejar-kejaran, berjalan cepat, atau berenang (lebih tepatnya mainan air atau berendam di kolam) rasanya sudah cukup. Sedikit-banyak, itu akan merangsang otot-otot dan tulang-tulangnya untuk tumbuh lebih besar dan kuat.

Jurus #6: Rangsang Daya Pikirnya

Berbicara tumbuh kembang anak, bukan hanya soal menambah berat dan tinggi badannya. Faktor pola pengasuhan, lingkungan, dan stimulasi juga besar peranannya.

Di Homerie, kami melakukan stimulisasi otak dengan hal-hal sederhana. Seperti mendongengkan cerita, jalan-jalan melihat lingkungan yang baru, bermain hal-hal sepele yang menyenangkan, atau melakukan percobaan-percobaan sains yang simple tetapi asyik, seperti pembuatan roket air di video ini:


Harapannya, otak anak-anak terus aktif, lantaran terus bertanya, menjelaskan, dan menggali hal-hal baru.

Karena menurut Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, dr. Kirana Pritasari, MQIH, “Yang lebih utama adalah kognitif. Kalau sampai terlambat, bisa berbahaya. Kalau tinggi badan, itu hanya penampilan. Sementara kognitif, ini menyangkut daya saing global, berkaitan dengan produktivitas, pembangunan, dan ekonomi negara.”



Nah, itulah enam jurus yang bisa dipraktikkan untuk menghalau stunting agar tidak “menggerogoti” tubuh buah hati kita. Tidak terlalu sulit. Hanya butuh kesabaran dan komitmen orang tua.

Ingat, stunting bukan hal yang main-main. Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, bahkan menyatakan ini menentukan masa depan bangsa Indonesia. Jika gizi anak hari ini tidak baik, maka 20-30 tahun yang akan datang, generasi Indonesia akan menjadi generasi yang kerdil. Tentu saja yang rugi adalah negara, karena daya saing, ekonomi, serta produktivitas negara menjadi lemah.

Maka mari, para orang tua yang anaknya masih kecil-kecil seperti kami, jangan lengah. Perangi stunting demi mewujudkan Indonesia Sehat!

- Penulis: Brahmanto Anindito
- Referensi: