Bagaimana Mengawal Fitrah Seksualitas Anak

Bagaimana Mengawal Fitrah Seksualitas Anak

Kenapa fitrah seksualitas perlu dikawal? Bukankah anak laki-laki akan otomatis akan menjadi laki-laki dewasa dan anak perempuan juga akan menjadi perempuan dewasa yang tahu tanggung jawab sesuai kodratnya? Oh, seandainya semudah itu…

Anda pernah melihat suami yang kasar, kaku, garing, dan susah memahami perasaan istrinya? Atau seorang pria yang tidak dekat dengan anaknya? Tahukah Anda, ada kemungkinan laki-laki itu sewaktu belum akil balig tidak dekat dengan ibunya.

Atau pernahkah Anda melihat suami yang sangat tergantung kepada istrinya? Bingung membuat visi-misi keluarga? Bahkan galau menjadi ayah? Mungkin ketika masih kecil, dia tidak dekat dengan ayahnya.

Kasus yang lebih parah adalah bocah lelaki yang tumbuh kemayu atau perempuan yang tumbuh menjadi sosok tomboi. Dan yang paling parah, bila orientasi seksualnya sampai ikut berubah. Dia menjadi penyuka sesama jenis (gay atau lesbian) atau jenis kelamin apa saja (biseksual). Dalam bahasa kekiniannya, kaum ini disebut LGBT.

Semua itu adalah akibat dari fitrah seksualitas anak yang tidak dikawal dengan baik. Lebih-lebih bila lingkungan tempat tumbuh-kembang si anak rawan.

Namun, Anda mungkin bertanya-tanya, apa itu fitrah seksualitas?

Fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang berpikir, merasa, dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau perempuan sejati. Menumbuhkan fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran, kedekatan, dan peran aktif orang tua. Itulah mengapa figur ayah dan bunda harus selalu ada di samping anak, sejak dia lahir sampai akil balig.

Banyak penelitian memperingatkan kita, anak-anak yang tercerabut dari orang tuanya pada usia dini, entah karena perceraian, bencana alam, atau sebab-sebab lain, akan banyak mengalami gangguan kejiwaan. Mereka akan merasa terasing, minder, atau depresi. Ketika dewasa pun mereka rentan memiliki masalah sosial dan seksualitas. Seperti menjadi homoseksual, membenci semua perempuan, curiga pada hubungan dekat, dan sebagainya.

Di sinilah kita sebagai orang tua perlu mengawal fitrah seksualitas tersebut. Konkretnya bagaimana? Menurut psikolog spesialis pengasuhan anak, Elly Risman Musa, ada beberapa tahap proses pendidikan berbasis fitrah:

Fitrah Seksualitas Anak 0-2 Tahun

Pada rentang usia ini, anak laki-laki dan perempuan sebaiknya didekatkan pada ibunya. Alasannya, anak umur segitu butuh menyusui secara intensif.

Fitrah Seksualitas Anak 3-6 Tahun

Anak harus dekat dengan ayah-bundanya secara seimbang. Selain karena sejak usia 3 tahun dia sudah harus memastikan identitas seksualitasnya (bicara, berpakaian, bertindak, bahkan berpikir sesuai identitas itu), juga agar dia memiliki keseimbangan emosional dan rasional.

Ini bisa terjadi kalau si buah hati dekat dengan ayahnya (yang cenderung rasional) dan bundanya (yang cenderung menggunakan perasaan). Seimbang!

Fitrah Seksualitas Anak 7-10 Tahun

Anak lelaki seyogianya lebih didekatkan kepada ayah, karena keegosentrisannya mulai bergeser menjadi sosiosentrik. Dia sudah punya tanggung jawab moral dan spiritual.

Maka bagi para ayah, tuntun anak lelakinya untuk, misalnya, salat berjemaah, bermain, bertemu dengan teman-teman ayahnya, dan seterusnya. Ini sebagai pembelajaran dalam bersikap di lingkungan sosial kelak. Makanya, lisan seorang ayah diharapkan piawai dalam narasi kepemimpinan, tangannya terampil dalam urusan kelelakian dan pertukangan.

Sedangkan anak gadis semestinya didekatkan kepada ibunya, supaya peran keperempuanan dan keibuannya bangkit. Maka tangan para emak-emak ini hendaknya terampil dalam mengatur urusan rumah, menangani adik yang lebih kecil, merawat tanaman, memasak, dan urusan-urusan keperempuanan serta keibuan lainnya.

Fitrah Seksualitas Anak 10-14 Tahun

Inilah puncak fitrah seksualitas. Di rentang umur ini, secara biologis, dorongan reproduksi mulai muncul. Anak laki-laki mulai mimpi basah dan anak perempuan mengalami menstruasi. Mereka sudah mulai tertarik dengan lawan jenis.

Pada masa terberat kehidupan anak ini, anak lelaki seharusnya didekatkan kepada ibu, dan anak perempuan didekatkan ke ayah. Kok terbalik?

Iya, anak lelaki didekatkan ke ibu agar dia dapat belajar dari sosok ibu tentang bagaimana lawan jenis seharusnya diperhatikan, dipahami, dan diperlakukan. Sang bunda harus menjadi sosok perempuan ideal pertama baginya. Bila perlu, juga menjadi konsultan sekaligus tempat curhat.

Anak lelaki yang tidak akrab dengan ibunya di tahap ini akan kesulitan untuk memahami perasaan dan pikiran perempuan, termasuk juga istrinya kelak. Dia berpeluang menjadi suami yang tidak dewasa, kasar, dan egois.

Sementara itu, anak perempuan justru harus didekatkan kepada ayahnya. Tujuannya sama, supaya dia dapat belajar berempati langsung dari lawan jenis terdekatnya, yaitu sang ayah. Maka bagi anak gadis, ayahnya harus menjadi sosok lelaki ideal pertama baginya. Kalau perlu, juga menjadi konsultan dan tempat curhat.

Anak perempuan yang tidak dekat ayahnya di tahap ini, kelak berpeluang besar menyerahkan tubuh dan kehormatannya kepada lelaki yang dianggap bisa menggantikan sosok ayahnya yang “hilang” selama ini.

Mengerikan, bukan?

Oleh karena itu, Ayah-Bunda, kawal terus fitrah seksualitas anak kita. Setidaknya, sampai mereka akil balig atau berusia sekitar 14 tahun. Tanamkan juga ilmu agama yang kuat.

Semoga anak-anak kita dapat tumbuh mendewasa sesuai dengan kodratnya. Agar saat tantangan zaman tiba kelak, yang entah bagaimana kacaunya kelak, mereka sudah kuat dan tidak terombang-ambing lagi.

Pendidikan Fitrah Seksualitas Bila Orang Tua Terlanjur Tiada

Pertanyaan yang tersisa mungkin, bagaimana cara menanamkan pendidikan fitrah seksualitas jika orang tuanya sudah tidak ada?

Memang, inilah kehidupan. Tidak semua anak beruntung memiliki orang tua yang utuh sampai masa remajanya. Banyak faktornya, antara lain perceraian (dan tidak memungkinkan pemilik hak asuh anak langsung menikah lagi), salah satu atau kedua orang tua meninggal, salah satu atau keduanya bekerja di tempat yang sangat jauh, dan aneka kesulitan lainnya.

Para pakar parenting memberi alternatif solusi, bahwa si anak harus dicarikan sosok ayah-bunda pengganti. Kalau yang hilang adalah ayahnya, sang ibu bisa mencari sosok pengganti (tidak harus suami baru) yang juga berfungsi sosial sebagai ayah si anak. Misalnya, pamannya, kakeknya, tetangganya, atau lelaki lain yang dekat dan sangat bisa dipercaya.

Begitu pula jika sosok yang hilang dalam periode 0-14 tahun kehidupan anak adalah ibunya.

Dalam kasus keduanya sudah meninggal, kewajiban mengawal fitrah seksualitas ini seharusnya berpindah ke tangan orang tua walinya atau pihak panti asuhan.

Yang terpenting saat ini adalah, sebanyak mungkin orang dewasa bisa mengerti bahwa kewajiban mengawal fitrah seksualitas anak (tidak harus anaknya sendiri) itu ada. Semua ini demi memastikan anak-anak Indonesia bisa tumbuh dengan sehat, kuat, dan bermasa depan cerah.