Matikan TV dan Mulailah Mendongeng

Matikan TV dan Mulailah Mendongeng

Di zaman digital seperti sekarang, sudah semakin jarang orang tua yang mendongeng (storytelling). Anak cenderung dibiarkan menikmati sajian-sajian modern melalui televisi, gawai, atau komputer. Termasuk Ara dan Kira. Untung mereka hanya bermasalah buat televisi. Saat ini, Ara biasa menonton televisi dua jam setiap hari. Kebiasaan ini yang rencananya kami ubah… dengan mendongeng kreatif.

Kata para pakar pengasuhan anak, pada dasarnya, anak-anak sangat menyukai mendengar dongeng. Terutama bila yang mendongeng adalah orang tuanya sendiri. Mereka akan tertawa bila cerita atau mimik pendongengnya lucu, bersedih bila sampai bagian yang mengharukan, dan tegang bila terjadi sesuatu pada tokoh kesayangannya.

Sebenarnya, pada anak usia berapa kita bisa mulai mendongenginya?

Sedini mungkin! Tak usah menunggu anak bisa berbicara untuk bisa menceritakan kisah-kisah menarik padanya. Mulai anak masih dalam kandungan pun bisa, terutama sejak sistem pendengaran janin berkembang (sekitar usia kandungan enam bulan). Pada trimester akhir kehamilan tersebut, janin sudah mulai bisa mendengarkan suara orang lain.

Tentu saja materi ceritanya disesuaikan dengan usia si buah hati. Kalau anaknya masih bayi, jangan terlalu banyak variasi kosakata. Sedangkan kalau anak sudah balita, kita bisa mendongeng lebih banyak.

Manfaat Mendongeng

Anak-anak yang biasa mendengar atau membaca cerita biasanya tumbuh menjadi anak yang lebih pandai, tenang, terbuka, dan stabil emosinya. Bagaimana bisa begitu?

Melalui cerita fantasi yang didongengkan, imajinasi, perbendaharaan kata, daya ingat, dan cara berbicara anak tentu akan semakin berkembang. Hal tersebut berdasarkan kesimpulan dari penelitian H.G. Wahn, W. Hesse, dan U.Schaefer pada 1980.

Cerita-cerita yang didongengkan membuat otak anak membayangkan bagaimana tokoh-tokoh di cerita itu, latar tempatnya, juga konflik ceritanya. Nilai-nilai moral yang terkadung dalam cerita fantasi itu merasuk ke alam bawah sadar anak dan terus terbawa sampai dia remaja dan dewasa.

Jadi, kita tidak perlu menggurui anak, “Kamu harus begini, kamu harus begitu.” Cukup dongengkan kisah yang mewakili itu, hasilnya akan jauh lebih efektif. Karena, anak-anak zaman sekarang suka membantah. Dilarang A, malah melakukan A.

Orang zaman dulu akan meluruskannya dengan pukulan, bentakan, atau hukuman. Namun, sebagai orang tua modern, kita seharusnya melihat sifat pemberontakan itu sebagai karakter anak kreatif. Meluruskan anak-anak seperti ini tentu harus dengan cara yang kreatif juga. Salah satunya dengan mendongengkan cerita-cerita yang relevan dengan kelakuan yang ingin kita luruskan tadi.

Dalam kegiatan bercerita, juga akan terjadi interaksi yang secara tidak langsung dapat medekatkan hubungan emosional orang tua dan anak. Selain itu wawasan anak juga akan bertambah, seperti variasi ungkapan, sejarah, pemahaman akan watak dan sifat manusia, sampai teknik bercerita.

Saat buah hati sudah mulai tertarik dan mengikuti jalan ceritanya, kita bahkan bisa memasukkan materi pelajaran sekolah. Anak secara tidak langsung dapat terbantu memahami pelajaran sekolah melalui cara yang menyenangkan.

Ketika kebiasaan mendongeng ini terus berjalan, cepat atau lambat, si anak akan tertarik untuk membaca sendiri guna menemukan cerita-cerita yang lain. Bahkan ketika belum bisa membaca, dia akan merebut buku kita dan pura-pura membacanya.

Ara dulu seperti itu ketika umur hampir dua tahun. Dia ingat detail kalimat-kalimat yang didongengkan bundanya. Sehingga, dia sering menyahut buku dari bundanya, lalu “membacanya” sendiri. Orang yang tidak tahu pasti menyangka Ara bisa membaca. Padahal, itu hanya cerita hafalan.

Bayangkan potensinya ketika anak sudah bisa membaca. Dia pasti akan semakin rakus bacaan!

7 Alasan Utama Orang Tua Enggan Mendongeng

Sebagian novel fantasi koleksi pribadi: bahan untuk mendongeng
Meskipun tahu manfaat positif mendongeng, jarang orang tua yang benar-benar mau rutin mendongeng bagi anaknya. Menurut pengalaman Keluarga Kecil Homerie, berbagai halangan orang tua untuk mendongengi anaknya itu antara lain:
  1. Merasa tidak ada waktu untuk mendongeng. Sebenarnya, ini cuma masalah pengaturan waktu. Kalau ada niat, seharusnya kita bisa menyisihkan 5-10 menit untuk mendongeng. Toh mendongeng bisa kapan saja dan di mana saja. Tidak harus di rumah dan di kamar tidur. Tidak harus malam hari sebelum tidur.
  2. Kehabisan bahan dongengan. Bagaimana bisa mendongeng, ceritanya saja tidak kita kuasai. Atau yang dikuasai cerita itu-itu saja. Solusinya, biasanya kami mulai kulakan cerita dengan membaca cerita-cerita fantasi atau cerita anak. Kalau dirasa kurang greget atau tidak sesuai usia, kami modifikasi sendiri ceritanya.
  3. Tidak mampu mendongeng. Memang, mendongeng pun butuh kemampuan, seperti membaca dengan intonasi yang disukai anak, mengubah-ubah ekspresi wajah, improvisasi ketika anak dirasa mulai kebosanan, dan sebagainya. Namun, ini bukan ilmu yang rumit. Tidak usah dipelajari secara khusus, kita akan bertambah ahli sendiri seiring dengan semakin seringnya mendongeng.
  4. Merasa bahwa mendongeng itu kuno dan sia-sia. Biasanya, kita merasa bahwa film, komik, dan segala media canggih lainnya bisa menggantikan aktivitas ini. Keliru! Banyak manfaat dari mendongeng secara langsung. Karena saat mendongeng, kita juga mengajari anak bagaimana menyusun cerita. Ini akan melatih logikanya. Selain itu, anak akan bisa berinteraksi dengan lebih intens saat penceritaan. Film atau komik tidak memiliki kelebihan ini, karena mereka media yang membuat penikmatnya pasif.
  5. Tidak punya alat peraga. Mendongeng memang terkadang memerlukan alat peraga, seperti boneka tangan, rumah-rumahan, atau buku pop-up untuk membantu merangsang imajinasi anak. Namun, itu semua tidak wajib. Bahkan mendongeng tanpa buku pun sah-sah saja. Asal penyampaiannya bisa menarik bagi si anak.
  6. “Anakku tidak suka, dia langsung tertidur!” Hahaha, biar saja dia tertidur. Kan bagus, anak akhirnya tidur. Tahukah Anda, ketika manusia tertidur, indra pendengarannya tetap bekerja. Jadi dia sebenarnya tetap mendengar, hanya yang memproses bukan alam sadarnya, melainkan alam bawah sadarnya. Jadi, nilai-nilai moral cerita tetap akan masuk ke otaknya.
  7. “Anakku tidak suka, dia malah sibuk sendiri!” Sebaiknya, Anda mencari tahu dulu apa cerita yang ingin didengarnya. Misalnya, tentang Loro Jonggrang. Ada sebagian anak yang tidak suka dengan gaya dongeng. Maka carilah gaya bercerita yang disukainya. Jangan gunakan intonasi, “Pada suatu hari…” Tetapi gunakan gaya mengobrol biasa, “Tahu nggak, kemarin Papa rapat di Prambanan. Kata teman papa, Loro Jonggrang itu ternyata seorang dewi, lo!” Jangankan anak-anak, orang dewasa pun kalau sudah mendengar obrolan tentang tema yang disukainya pasti antusias mendengarkan. Iya, kan?
Jadi, sudahlah, Ayah, Bunda. Jangan terlalu banyak alasan untuk menghindari mendongeng. Masa kecil anak itu sebentar sekali, lo. Anak yang tumbuh tanpa cerita dan dongeng akan cenderung kaku dalam menyikapi hidup. Percayalah, mendongengi anak itu banyak manfaatnya.

Yuk, matikan televisinya, dan mulai menyiapkan dongengan terbaik kita.

Komentar