Tentang

Keluarga Kecil Homerie

Tanyakan kepada guru manapun, apakah mengajar dan mendidik anak hari ini semakin lama semakin mudah, sama saja, atau semakin sulit dibanding di masa lalu? Niscaya, mereka akan kompak menjawab: semakin sulit.

Tanyakan kepada orang tua manapun, kemungkinan besar jawabannya kurang-lebih akan serupa.

Tantangan mengajar dan mendidik anak di zaman digital ini, atau sebagian orang menyebutnya era disrupsi (perubahan mendasar), memang semakin berat. Bukan saja karena orang tua harus fokus kepada anak, melainkan juga kepada teknologi yang terus berubah secara cepat. Dan anak-anak kita tumbuh dengan itu.

Ketika kita masih keteteran membendung anak dari bahaya kecanduan televisi dan tertatih-tatih membuat atraksi yang lebih menarik di rumah, sudah hadir ponsel pintar (smartphone) dan komputer tablet.

Ketika kita belum menemukan solusi efektif bagaimana menanamkan kegemaran literasi, sudah muncul YouTube, Facebok, dan Instagram yang memporakporandakan cikal bakal tradisi membaca buku.

Dan siapa yang tahu apa lagi tantangan-tantangan ke depannya. Karena itu, para orang tua perlu saling berbagi, juga saling membuat sistem pengetahuan bersama untuk mengantisipasi hal-hal semacam ini. Mungkin itulah alasan Homerie hadir: pendidikan bagi anak, dan pendidikan bagi orang tua.

Siapa di Balik Homerie?

Bukan siapa-siapa. Bukan guru, pendidik profesional, psikolog, atau pakar tumbuh-kembang anak. Bahkan bukan orang tua yang berpengalaman di bidang parenting.

Kami hanya keluarga kecil sederhana yang terdiri dari Yayah (penulis lepas), Bunda (ibu rumah tangga), Ara (putri sulung yang masih balita saat blog Homerie mulai dipublikasikan), dan Kira (putri bungsu di keluarga ini).

Homerie tidak berkaitan dengan organisasi, lembaga, yayasan, perusahaan, atau partai politik manapun. Kami hanyalah keluarga yang orang tuanya selalu berusaha belajar untuk mendidik dan anak-anaknya terus mencoba belajar menghadapi dunia.

Di Homerie, kami percaya, mendidik anak bukanlah tugas guru. Yang lebih berkewajiban adalah orang tua. Berbeda dengan guru, orang tua harus senantiasa mampu dan mau mendidik anaknya meskipun tidak dibayar.

Kami tidak memandang penting perbedaan antara metode homeschool (sekolah rumah) atau conventional school (sekolah umum). Karena semuanya dapat saling melengkapi, dengan kunci utama di orang tua.

Untuk Apa Homerie?

Baik mengikuti pola didik sekolah rumah atau sekolah umum, seharusnya kita sepakat, anak harus selalu mempunyai kegiatan edutainment bersama keluarganya, baik di rumah sendiri, rumah orang lain, tempat rekreasi, atau di manapun.

Karena itulah, kami mencoba lebih banyak meluangkan waktu berkualitas bersama anak. Kami merekam sebagian kegiatan itu di sini, juga opini-opini kami, serta opini-opini yang kami kutip dari para pakar parenting.

Tujuannya?

Mungkin terlalu berlebihan jika kami berharap Homerie bisa menginspirasi keluarga-keluarga lain di Indonesia. Jadi, sejak awal, kami canangkan niat hanya untuk dokumentasi keluarga kecil kami. Mengapa?

Menjadi orang tua itu singkat sekali. Tahu-tahu, anak sudah bisa berjalan. Tahu-tahu, anak sudah bisa mendebat orang tuanya. Tahu-tahu, anak sudah bisa mencari uang sendiri. Tahu-tahu, anak sudah meninggalkan rumah untuk memulai hidup sendiri. Tahu-tahu….

Maka dari itu, mari kita nikmati setiap detik kebersamaan di keluarga ini.