Ngabuburit, Buka, dan Tarawih di Masjid Al-Akbar Surabaya

Ngabuburit, Buka, dan Tarawih di Masjid Al-Akbar Surabaya

Ketika diajak jalan-jalan ke Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya jauh hari sebelum masuk bulan puasa, Ara sudah bolak-balik mencanangkan niatnya. Bulan Ramadan ini, dia berniat puasa penuh. Tahun lalu, dia hanya puasa sampai zuhur, makan-minum, lalu lanjut puasa hingga magrib. Itu pun, ketika sore, dia bolak-balik tanya, “Magribnya kurang berapa jam, Bunda?”

Kami tidak pernah memberinya insentif atau iming-iming hadiah. Entah, Ara mendapat motivasi puasa dari mana. Mungkin dari serial televisi Upin-Ipin. Mungkin dari ustazah-ustazahnya di TK atau teman-teman TK-nya. Sebab, kata Ara sendiri, ada temannya yang sudah membiasakan diri puasa Senin-Kamis.

Kami sendiri, sejujurnya, tidak mendorong Ara untuk langsung ikut berpuasa penuh. Karena selain belum wajib, juga tahu sendiri, Ara itu kurus. Kami khawatir tambah ceking saja tubuhnya kalau rajin puasa.

Namun ternyata, sampai beduk zuhur, Ara masih konsisten. Ketika kami tanya, “Yakin mau diteruskan?” Dia mengangguk mantap, tanpa terlihat loyo atau ragu. Alhamdulillah!

Yayah dan Bunda pun tidak ragu mengajaknya ke Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, atau biasa dikenal sebagai Masjid Agung Surabaya (MAS), hari itu juga. Kami berencana ngabuburit, berbuka puasa, sekaligus tarawih di sana. Juga bila memungkinkan, membuat video review masjid sekalian.

Berangkatlah kami berlima. Empat anggota Keluarga Kecil Homerie, plus kakungnya Ara dan Kira.

Sebenarnya, sudah beberapa kali, kami dan kakungnya anak-anak mengunjungi masjid terbesar kedua di Indonesia ini. Tidak banyak perubahan yang membuat kami pangling atau terkejut. Dari tahun ke tahun, masjid ini masih sama.

Dari tahun ke tahun juga, kami tidak pernah berkesempatan menaiki puncak menara masjid yang katanya atraksi wisata utama dari MAS ini. Namun, berhubung niat kami kemari beribadah, bukan berekreasi, tidak apalah.

Review Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya

Yang Yayah sukai di Masjid Al-Akbar ini adalah peletakan safnya yang tidak berdempetan (depan-belakang). Jadi ketika kita sujud, tidak khawatir kepala kita terkena kaki orang di depan. Ruang salat pun terasa lega.

Lebih istimewanya lagi, karena letak antarsafnya sedikit berjarak, terkesan ada jalur khusus. Kami menduga, ini didesain sebagai jalan darurat bagi makmum yang tiba-tiba ada uzur di tengah-tengah salat berjemaah. Misalnya, ada yang mendadak sakit, pingsan, atau kentut saat salat. Mereka bisa enak keluar saf tanpa harus menginjak-injak atau memotong ruang sujud jemaah lainnya.

Penataan saf yang bijak, bukan? Meskipun konsekwensinya, ruang yang dipakai harus lebih luas (atau bisa dibilang boros tempat), tidak bisa seefisien masjid umumnya.

Ayah-Bunda takkan melihat AC di Masjid Agung Surabaya. Sebab, sistem pendinginnya menggunakan kipas angin yang disebar di beberapa titik. Terlihat jadul? Tidak juga. Toh plafon ruang utama masjid ini sudah tinggi sekali, dua puluhan meter. Pintu-pintunya besar, jendela-jendelanya gede. Jadi, sirkulasi udara dijamin baik. Sejuk!

Sisi negatif dari masjid ini hanya beberapa sudut yang masih terlihat kotor. Terutama di tempat wudu, kamar kecil, dan lantai dua (plus tangga-tangganya). Sayang sekali, masjid berkelas nasional tetapi agak jorok begitu. Semoga ke depannya, ini bisa diperbaiki.

Berbuka dan Salat Tarawih di Masjid Al-Akbar Surabaya

Setelah berjalan-jalan dan bercakap-cakap sebentar, Ara teler. Jam besar di halaman tengah masjid menunjukkan pukul 5 sore. Pantas sudah lemas, hehehe. Dia tiduran di samping kakung dan adiknya (yang masih segar bugar (karena tidak berpuasa).

Sebenarnya, dalam hati, kami kagum juga. Ini puasa magrib pertamanya, dan anak 6 tahun itu masih bisa antusias menyelesaikan vlognya. Bagus sekali!

Namun, karena tokoh utamanya sudah teler, kami harus melanjutkan dokumentasi dan review Masjid Al-Akbar berdua saja: Yayah dan Bunda.

Sebagaimana di masjid-masjid besar lainnya, di Al Akbar juga ada takjil dan hidangan nasi kotak untuk buka bersama. Takjil biasanya air mineral dan 3-4 butir kurma. Untuk hidangan utamanya, bervariasi, tergantung kateringnya. Yang jelas, setiap magrib selama bulan puasa, tidak kurang dari 2.000-3.000 nasi kotak selalu ludes.

Setelah bersantap takjil, kami salat magrib berjemaah. Lalu, mengantre nasi kotak. Ara yang tadinya lemas, ternyata tidak terlalu antusias makan. Malah Kira yang nafsu makannya sedang besar-besarnya. Padahal, dia tidak berpuasa. Sahur ikut sahur, terus sarapan, makan siang, dan sekarang masih ikut berbuka dengan lahap.

Perut terisi, kami langsung salat Isya', disambung mendengarkan khotbah tarawih, dan salat Tarawih. Di Masjid Al-Akbar, salat Tarawih itu 18 rakaat (9 kali salam). Namun setelah tarawih keempat, imam akan rehat sebentar untuk memberi kesempatan makmum yang tidak ikut melanjutkan tarawih 18 rakaat meninggalkan saf.

Alhamdulillah, Ara berhasil menyelesaikan puasa penuh pertamanya dan mau salat Tarawih (padahal, di rumah, salat wajib saja harus bolak-balik disuruh dulu). Alhamdulillah, ngabuburit kami juga produktif, karena bisa menjadi bahan vlog. Dan, inilah video review kami terhadap Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya:


Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya

  • Nama lain: Masjid Agung Surabaya (MAS)
  • Alamat: Jalan Masjid Al-Akbar Utara no. 1, Pagesangan, Jambangan, Surabaya 60274, Jawa Timur, Indonesia
  • Telepon: +62 31 828 9755
  • Luas: 22.300 meter persegi
  • Dan daya tampung: 60.000 jemaah
  • Tinggi kubah: 27 meter
  • Tinggi menara: 99 meter
  • Mulai dibangun pada 1995 (peletakan batu pertama oleh Wakil Presiden Try Sutrisno), selesai pada 2000 (diresmikan oleh Presiden Abdurrahman Wahid).

Komentar