Eksplorasi Museum Trinil Ngawi

Teman yang Dulu Langganan Juara Kelas, Sekarang Jadi Apa?

Teman yang Dulu Langganan Juara Kelas, Sekarang Jadi Apa?

Baru saja membaca di Facebook, ada status provokatif yang menarik: “Temanmu yang dulu sering juara kelas, sekarang jadi apa?” Sebuah eksperimen sosial yang menarik. Kami ingin menjawabnya di sini.

Masalahnya, kami sendiri tidak terlalu tahu perkembangan terkini para mantan juara itu. Karena terus terang, dulu tidak terlalu akrab dan sekarang pun bisa dibilang putus kontak. Cuma berteman di Facebook, tetapi jarang sekali berbicara, apalagi menongkrong bareng. Jadi, Yayah dan Bunda hanya bisa mengira-ngira. Mohon maaf bila tidak akurat.

Teman Juara Kelas Yayah (yang dipisahkan dengan koma, berarti orangnya lebih dari satu):
  • SD: pengacara sekaligus kader partai politik, meninggal
  • SMP: ibu rumah tangga, guru, Aparatus Sipil Negara (ASN)
  • SMA: dokter spesialis, ASN
  • S-1: ibu rumah tangga sekaligus pebisnis, dosen, manajer penjualan

Teman Juara Kelas Bunda (yang dipisahkan dengan koma, berarti orangnya lebih dari satu):
  • SD: ibu rumah tangga
  • SMP: ibu rumah tangga, guru
  • SMA: ibu rumah tangga, guru
  • S-1: kerja di luar negeri di bidang travel

Ternyata, tidak semuanya sukses dan bergelimang harta, ya. Padahal, untuk menjadi juara kelas, tentunya tidak gampang.

Namun, sudahlah. Setiap orang memiliki definisi yang berbeda-beda tentang “sukses”. Yang jelas, sepengamatan kami, semua teman kami yang mantan juara kelas itu adalah orang yang bermanfaat. Status “juara” di bidang ilmu insyaAllah tidak pernah bohong.

Karena itu, kami pun terus menciptakan kondisi “haus ilmu” bagi putri-putri kami: Ara dan Kira. Supaya kelak, apapun profesi mereka, hidup mereka bermanfaat bagi banyak orang.

Bahkan yang tidak berkarier atau berbisnis, alias “hanya” ibu rumah tangga, pun harus bermanfaat. Karena pada dasarnya, profesi ibu rumah tangga adalah pembangun peradaban. Bayangkan, betapa dahsyatnya anak-anak kita bila diasuh langsung oleh seorang juara kelas! Sebaliknya, bayangkan bila anak-anak kita sehari-hari diasuh oleh orang yang juara 1 dari bawah. Pasti beda, bukan? :D

Tidak perlu diperdebatkan bahwa seorang perempuan yang cerdas harusnya di kantor (supaya bakatnya tidak sia-sia) atau di rumah (supaya anak-anak ikut cerdas). Karena perdebatan ini selain tidak produktif, juga membuang-buang waktu dan sungguh basi. Sekali lagi, setiap orang punya definisi sendiri terhadap kata “sukses”. Apa yang kita nikmati, asalkan positif, itulah yang harusnya kita kejar sebagai cita-cita. Dan cita-cita tidak harus sama.

Sekarang, kembali lagi, ke pertanyaan di awal tulisan. Tanpa bermaksud mengambil kesimpulan apa-apa, apalagi menertawakan, ini murni hanya penasaran… teman Ayah-Bunda (atau Ayah-Bunda sendiri?) yang dulu sering juara kelas di sekolah atau kampus, sekarang kerja atau bisnis apa?

Ini akan menjadi tema menarik untuk diceritakan ke anak-anak kita, supaya mereka lebih dapat memiliki gambaran mengenai kehidupan dan cita-citanya.

- Foto: Koleksi Pribadi Homerie

Komentar