Memori Semarang, Petualangan Pertama Homerie

Eksplorasi Museum Trinil Ngawi

Eksplorasi Museum Trinil Ngawi

Akhirnya, tiba juga Keluarga Kecil Homerie di Museum Trinil Ngawi, Jawa Timur. Beberapa tahun sebelumnya, kami berjalan-jalan ke museum sejenis di Sragen, Jawa Tengah, yaitu Museum Sangiran. Di sana, Ara (waktu itu umur tiga tahun) menangis ketakutan melihat patung manusia purba. Sekarang, kami mau melihat, apakah dia masih takut? Bagaimana dengan Kira yang saat ini juga tiga tahun?

Dibanding Sangiran, Museum Trinil kalah segalanya. Luasnya hanya sekitar 24.010 meter persegi. Ruang pajangannya juga, baik secara luas maupun desain, lebih mirip aula sekolah ketimbang ruang pamer museum modern. Sayang sekali, pemerintah tidak membenahinya. Padahal, Trinil adalah tempat pertama penelitian manusia dan hewan purba di Indonesia.

Tetapi, kami tetap berangkat. Bagaimanapun, pengalaman menyenangkan dan edukatif (edutainment) yang kami alami di Museum Sangiran membuat kami yakin, Museum Trinil pun memiliki sesuatu yang dapat kami nikmati.

Sejarah Museum Trinil

Sejarah Museum Trinil

Museum Trinil Ngawi berdiri pada 1891. Awalnya, dibangun ala kadarnya oleh Eugene Dubois, seorang pejabat kedokteran tentara kolonial Belanda. Ini setelah penganut Teori Darwin itu pertama kalinya menemukan spesimen manusia Jawa purba di dasar Sungai Bengawan Solo. Spesimen inilah cikal bakal penyusunan kerangka manusia setengah kera yang kemudian diberi nama Pithecanthropus erectus.

Sebagai penanda, dibuatlah tugu dengan gambar anak panah menuju timur laut bertuliskan, “P.e. 175 m, 1891/95.” Maksudnya Pithecantropus erectus (P.e.) yang ditemukan pada 1891, sekitar 175 meter ke timur laut dari monumen tersebut. Sekarang, tugu ini bisa dijumpai di taman belakang Museum Trinil.

Situs Trinil modern dibangun atas prakarsa Profesor Teuku Jacob, ahli antropologi ragawi Universitas Gadjah Mada. Sejak itu, situs paleoantropologi di Lembah Bengawan Solo ini pun menjadi andalan wisata Kota Ngawi.

Isi Museum Trinil Ngawi

Koleksi Museum Trinil Ngawi

Pertama masuk ke area Museum Trinil, kami disambut dengan gapura museum berlatar belakang patung stegodon. Sebagai catatan, gajah purba ini bukan mamut (gajah berbulu panjang dan bergading melengkung), meskipun sama-sama gajah raksasanya.

Yang jelas, baik Ara maupun Kira tidak ada yang takut dengan patung hitam ini. Awal yang bagus!

Di tengah-tengah area Museum Trinil, berdiri pendopo. Mungkin fungsinya untuk para pengunjung yang ingin beristirahat atau berkumpul.

Kami sempat berkeliling dan duduk-duduk menikmati taman depan yang indah. Dipenuhi dengan pohon beringin, sono, pakis, dan lain-lain yang tertata rapi. Tersebar juga papan-papan bergambar kehidupan masyarakat purba. Area museum dikelilingi dengan pagar beton bergaya Eropa.

Setelah itu, kami masuk ke ruang etalase situs purba. Ruang utama ini memiliki dua pintu masuk: di depan dan samping. Pintu depan dihiasi dengan sepasang gading stegodon ukuran asli (skala 1:1).

Koleksi yang dipajang di sini meliputi fosil tengkorak Pithecantrophus erectus (meski hanya replika), fosil tulang rahang bawah macan purba (Felis tigris), fosil gading, gigi geraham atas, tulang panggul, dan tulang pengumpil gajah purba (Stegodon trigonocephalus), fosil tanduk banteng purba (Bibos palaeosondaicus), juga alat-alat yang digunakan oleh manusia purba dalam berburu.

Keluar melewati pintu samping, kami berjalan menuju taman bermain (playground) dan bumi perkemahan. Kami pikir, ini yang membedakan Museum Trinil dan Museum Sangiran. Di Museum Trinil Ngawi, ada beberapa wahana bermain anak, mulai dari prosotan, panjatan, sampai rumah anak.

Ada pula jembatan bambu, tiruan sarang burung raksasa, patung hewan-hewan purba (gajah, kerbau, banteng, rusa), dan gazebo-gazebo untuk beristirahat. Tempatnya teduh karena banyak pohon rindang, dan jalannya enak karena sudah di-paving.

Udara terasa segar, diiringi suara ayam dan burung. Tenang sekali. Rasanya, tempat ini memang dirancang untuk wisata keluarga.

Pemandangan Sungai Bengawan Solo

Menara Pantau Sungai Bengawan Solo

Sisi barat, utara, dan timur Museum Trinil dibatasi oleh Sungai Bengawan Solo. Sungai purba yang diperkirakan terbentuk sejuta tahun silam ini membentang dari Provinsi Jawa Tengah sampai Jawa Timur.

Para arkeolog menduga kuat, kawasan di sekitar sungai inilah yang menjadi tempat berkembangnya peradaban purba, pada Zaman Pleistosen Tengah, sekitar satu juta tahun silam.

Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo merupakan yang terbesar dan terpanjang di Pulau Jawa. DAS Bengawan Solo relatif datar dan sebagian besar berada di dataran rendah. Topografinya berkelok-kelok alias penuh dengan meander.

Bentuk meander inilah lumbung peninggalan paleoantropologi dan arkeologi di Indonesia. Sebab, di teras di kanan-kirinya, banyak ditemukan fosil-fosil fauna purba, artefak, serta tulang dan spesimen Homo erectus. Selain penemuan tengkorak dan tulang, juga ada penemuan rangka utuh stegedon. Karena itu, binatang ini menjadi ikon di Museum Trinil Ngawi.

Ayah-Bunda bisa menikmati secuplik keindahan sungai yang menjadi saksi peradaban masyarakat purba di Indonesia ini melalui Situs Trinil. Terutama di menara pantaunya yang terbuat dari bambu. Spot ini lumayan keren untuk berfoto-foto bersama keluarga.

Bagaimana Mencapai Museum Trinil

Rute menuju Museum Trinil Ngawi

Museum Trinil terletak sekitar 15 kilometer dari Kota Ngawi ke arah barat. Maka lebih praktis bila Ayah-Bunda membawa sendiri mobil atau motor. Begitu sampai belokan Trinil di Jalan Raya Solo-Ngawi, tinggal cari posisi persisnya melalui GPS atau dengan bertanya penduduk sekitar.

Namun, bagaimana bila tidak membawa kendaraan sendiri? Tenang, kami pun begitu. Memang sedikit repot, karena tidak ada kendaraan umum yang akan mengantarkan sampai lokasi. Satu-satunya transportasi publik yaitu bus Jurusan Solo-Surabaya. Itu pun hanya berhenti di pertigaan Trinil (pangkalan ojek) dan kita harus menyambungnya dengan menyewa ojek.

Dari Stasiun Paron, kami sendiri sempat terlunta-lunta, sebelum akhirnya dibantu mencari ojek oleh orang stasiun. Kami pun berangkat menggunakan dua motor, dan masing-masingnya pasang tarif Rp50.000. Gojek atau Gocar? Grab? Jangan harap. Bahkan taksi konvensional pun belum ada di kabupaten ini.

Untuk pulangnya, petugas museum membantu kami memanggilkan ojek. Mereka mengantar sampai pangkalan ojek di Jalan Raya Solo-Ngawi. Di sana, kami mencegat bus antarkota (Solo-Surabaya) untuk menuju terminal atau pusat kota.



Demikian catatan ringkas kami mengenai Museum Trinil Ngawi. Oh ya, apakah akhirnya Ara dan Kira takut ketika bertemu dengan patung manusia purba yang tinggi-besar? Trauma? Ingin melihat lebih riil bagaimana penampakan Museum Trinil Ngawi? Temukan jawabannya di video dokumentasi Homerie ini:


Museum Trinil Ngawi

  • Alamat: Pilang, Wonokerto, Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, East Java 63254
  • Koordinat: 7.3743°S 111.3578°E
  • HTM: Dewasa Rp3.000 & Anak Rp2.000

Komentar