1 Night and 2 Days at Palmyra Homestay Malang

Bagaimana Mengenalkan Sastra kepada Anak

Bagaimana Mengenalkan Sastra kepada Anak

Selain agama, sains, teknologi kekinian, dan bahasa asing, penting untuk mengenalkan sastra kepada anak. Sebab, sastra dapat merangsang kebiasaan suka membaca, kecerdasan linguistik, daya imajinasi, sekaligus perkembangan intelektual serta psikologi anak.

Akan tetapi, mengenalkan indahnya sastra kepada buah hati ini tidak segampang mengenalkan komik, gim, atau film kartun. Perlu pendekatan khusus agar mereka tertarik dan tertantang. Jadi, bagaimana strategi itu. Di Homerie, kami selalu memulainya dengan sederhana.
   

1. Memberikan Puisi yang Bagus kepada Anak

Puisi merupakan subgenre dari sastra. Bentuknya sederhana, pendek (dibanding cerpen apalagi novel), penuh makna tersembunyi, dan terkadang berima sehingga enak dilisankan. Dengan memberikan anak langsung sebuah puisi, mungkin mereka akan bertanya, "Tulisan apa ini?" Nah, baru kita jelaskan bahwa seperti itulah bentuk puisi. Menulisnya berbeda, membacanya pun berbeda.
    

2. Mendeklamasikan Puisi Itu

Kami tidak hanya menyuruhnya membaca dalam hati, tetapi juga membacanya dengan keras, lengkap dengan intonasi khas puisi dan gaya. Sebagaimana kami meminta Ara mendeklamasikan puisi (tentu setalah kami ajari) karya pujangga angkatan ‘45 ini:
Diponegoro

- karya: Chairil Anwar (Februari, 1943)


Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditinda

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai.

Maju.
Serbu.
Serang.
Terjang.

3. Mendiskusikan Puisi Itu

Pancingan kami termakan. Secara bertahap, Ara bertanya banyak hal yang tidak dipahaminya seputar puisi kepahlawanan di atas.

Tentu saja, tidak semua kami bisa menjawab. Tetapi yang bisa kami jawab, kami jawab. Yang kami tidak yakin, kami jelaskan makna kamus serta penafsiran kami (untuk makna kiasan), lalu diberi imbuhan, "Menurut Yayah seperti itu, sih."
    

4. Meminta Anak Membuat Puisi Sendiri

Setelah tahu ciri-ciri puisi dan keindahannya, kami meminta anak untuk membuat puisi sendiri sesuai kemampuannya. Tidak usah menggunakan teori apa-apa. Penugasan seperti ini membuat anak kreatif dalam berpikir.

Semakin sering latihan, dia akan semakin terbiasa untuk memaksimalkan kosakata yang dimilikinya. Harapannya, dia dapat bersenang-senang menciptakan puisi yang menurutnya bagus.

Komentar