Sisi-sisi Buruk Pohon dan Cara Menebangnya

Sisi-sisi Buruk Pohon dan Cara Menebangnya

Jasa pohon bagi planet ini sangatlah besar. Pohon adalah penghasil oksigen yang alami. Hijau daunnya membuat mata kita segar. Kerimbunannya meneduhi kita dari terik matahari atau hujan. Daun, bunga, buah, dan umbinya juga menyediakan makanan bagi makhluk-makhluk lainnya.

Belum lagi fungsi hiburannya. Jika rumah Ayah-Bunda terletak di dekat pohon lebat, hampir dapat dipastikan setiap hari terdengar kicauan burung. Benar, kan? Bagi penyayang binatang seperti kami, mendengar kicauan burung tanpa mengurungnya adalah sebuah kemewahan dan kedamaian.

Di pohon kami, burung bersarang atau sekadar mampir untuk mencari mangsa serangga atau laba-laba. Serangga maupun laba-laba tinggal dan mencari makan di pohon itu juga. Demikian pula kelelawar buah. Luar biasa! Satu pohon mampu menghidupi banyak hewan, termasuk manusia.

Kami pernah punya pohon pisang, jambu, pepaya, belimbing, dan mangga. Setiap musimnya, kami menikmati buah-buahan gratis yang berlimpah. Kami suka membagi-bagikannya kepada tamu yang kebetulan mampir atau para tetangga.

Akan tetapi, hampir semua pohon buah itu sekarang telah ditebang. Sebab, ternyata pohon-pohon juga memiliki sisi negatif. Ada setidaknya enam sisi buruk itu. Apa saja?


(1) Menjadi Liang Ular

Pohon pisang menjadi liang ular

Pepohonan pisang di halaman depan rumah selain membuat pekarangan terlihat kumuh, ternyata menjadi rumah bagi berbagai reptil juga. Ular-ular tampaknya merasa nyaman membuat liang persembunyian di tanah berongga sekitar akar pohon pisang. Mereka beranak-pinak di sana.

Jadi, dulu sering ada ular berkeliaran di halaman kami. Terutama sebelum pekarangan tersebut dipaving.


(2) Menjadi Sarang Lebah

Pohon belimbing menjadi sarang lebah

Pohon belimbing kami pernah beberapa kali dijadikan sarang lebah. Yang paling menyeramkan adalah saat Yayah baru saja bekerja. Sekelompok lebah tahu-tahu membangun sarang sebesar bola basket di pohon itu.

Awalnya, penghuni rumah penasaran dengan bunyi dengungan yang monoton. Apakah itu mesin milik tetangga? Atau kendaraan bermotor yang sedang dipanaskan? Tetapi mengapa tidak berhenti-berhenti selama beberapa jam?

Setelah diikuti sumber suaranya, terlihatlah segerombol lebah besar beterbangan di salah satu dahan belimbing. Itulah sumber dengungan nonstop tadi. Seisi rumah langsung heboh, tetapi tidak seorang pun berani mengusir mereka.

Untungnya, keesokan harinya, sekawanan tawon itu sudah hilang. Pindah entah ke mana. Datang tak diundang, pergi tak diusir.


(3) Menjadi Tempat Nongkrong Ulat Bulu

Pohon belimbing menjadi tempat nongkrong ulat bulu

Sekitar sepuluh tahun kemudian, Ara dan Kira sudah lahir. Pohon belimbing tersebut kembali bermasalah. Selama beberapa hari, kami gatal-gatal tanpa tahu penyebabnya. Lalu, kami menemukan dua atau tiga ekor ulat bulu.

Sulit dipercaya, bagaimana mungkin dua-tiga ekor ulat bulu bisa menyebabkan seisi rumah gatal-gatal?

Ternyata, bukan hanya dua atau tiga ekor ulat bulu, Ayah-Bunda. Di plafon, kami melihat gerombolannya. Yayah langsung memeriksa ke atas, di dekat pohon belimbing. Bulu kuduknya spontan berdiri menyaksikan ratusan atau ribuan ulat bulu berkumpul di sana.

Seisi rumah akhirnya kompak bergerak. Berperang melawan pasukan ulat bulu itu!

Banyak ulat bulu bergelimpangan. Mereka mati setelah kami potong, gencet, bakar, dan semprot insektisida. Namun, tetap saja kami tidak sanggup membasmi tuntas ulat bulu yang bukan main banyaknya itu.

Gatal itu masih mengganggu. Daripada lelah menggaruk dan membeli bedak antigatal terus, kami memutuskan untuk menebang pohon belimbing itu sekalian.


(4) Sewaktu-waktu Dapat Jatuh

Buah, cabang, atau bahkan batang sewaktu-waktu dapat jatuh

Pohon mangga di halaman depan rumah kami umurnya kira-kira 30 tahun. Tingginya delapan meteran. Sudah tidak terhitung berapa kali buahnya berjatuhan. Setiap menghantam atap, bunyinya nyaring sekali. Kalau mendarat di paving, bisa seperti telur, paving pun belepotan dengan noda kuning yang lengket.

Kalau kena orang? Dari ketinggian itu? Dengan buah sekeras itu? Sudah pasti sakit, dan harus kotor oleh getah atau noda kuningnya. Alhamdulillah, itu belum pernah terjadi, dan semoga takkan pernah. Namun, jok sepeda motor Yayah pernah membercak kuning, kesannya menjijikkan seperti baru saja "dibom" oleh burung. Padahal, itu hanya noda mangga.

Oh ya, beberapa bagian dari pohon mangga kami melapuk. Sebagian karena usia, sebagian karena benalu, hama, atau rayap. Satu atau dua dahan yang besar terkadang jatuh. Untungnya, belum pernah menimpa siapa-siapa. Tetapi sudah sering menjatuhi atap, genting, atau pot.

Itu baru dahannya. Kami ngeri membayangkan seandainya suatu hari batangnya yang doyong, lalu ambruk. Berapa banyak kerugian moral maupun material nantinya?


(5) Daunnya ke Mana-mana

Daun pohon menyampah dan merambah ke mana-mana

Bukan hanya menyebabkan sampah ketika daun-daun berguguran. Saat masih di pohon, dedaunan yang lebat itu menjulur hingga halaman tetangga, bahkan sampai menjangkau kabel PLN. Seram juga bila sampai tersengat setrumnya. Bisa-bisa listriknya menjalar dan membahayakan sekitar, menciptakan kebakaran, atau korsleting satu RT.

Membuat susah warga sekompleks? Aduh, tidak bisa dibayangkan dosanya....


(6) Akarnya Semakin Liar

Akarnya semakin lama semakin liar

Akar pohon tunggang (tumbuhan dikotil) sangat kuat, dan pertumbuhannya bercabang-cabang. Cepat atau lambat, akar itu akan merusak lantai bahkan tembok di sekitarnya. Awalnya yang berjarak tiga meter darinya. Berikutnya radius lima meter, bahkan 10 meter pun pelan-pelan diremas atau ditembus.

Jangan remehkan kekuatan akar. Paving di sekitar pohon mangga kami menggelembung lumayan tinggi gara-gara akar. Lantai keramik yang berjarak sepuluh meter dari pohon pun terbukti menggunduk dan pecah.

Kita tidak pernah tahu sampai berapa usia sebuah pohon. Mungkin hingga ratusan tahun, bila tidak terserang hama atau rayap, serta cuaca dan tanahnya cocok. Bagaimanapun, semakin besar sebuah pohon, semakin besar pula risikonya. Bisa satu, beberapa, atau malah keenam hal buruk tadi terjadi.

Maka dari itu, terlepas dari banyaknya jasa pohon bagi kehidupan kita dan kami masih berpendapat bahwa lingkungan yang hijau lebih baik untuk tumbuh-kembang anak, tindakan pemangkasan atau bahkan penebangan pohon perlu untuk meminimalkan risiko-risiko tadi.


Tips Cara Menebang Pohon

Tips cara menebang pohon

Yang jelas, si penebang harus cukup berotot untuk mengangkat alat-alatnya dan pandai memanjat pohon. Sebab, menebang pohon itu tidak semudah yang kita kira, Ayah-Bunda. Apalagi jika lekak-lekuk cabangnya random seperti pohon mangga.

Jangan bayangkan menebang pohon bisa dilakukan cuma dengan dibacok atau dikapak pangkalnya atau bagian bawah batangnya, lalu pohon akan doyong dan tumbang. Metode itu hanya berhasil bila pohonnya berbatang lurus, atau di tempat yang luas seperti lapangan atau hutan.

Untuk lokasi pohon di tempat seperti halaman rumah pada umumnya, kita harus lebih berhati-hati supaya tumbangnya pohon tidak menjatuhi si penebang, orang lain, rumah, pagar, atau fasilitas-fasilitas lainnya di sekitar pohon. Untuk itu, ada tahap-tahap dalam menebang pohon, mulai dari bagian atas sampai bawah:

  1. Pemangkasan Ranting. Tahap ini dapat dilakukan dengan golok, celurit, atau alat-alat tajam lainnya. Tujuannya, agar dahan-dahan bisa dipotong dengan lebih mudah.
  2. Pemotongan Dahan. Tahap ini dilakukan dengan alat seperti gergaji, baik manual maupun mesin (tenaga diesel). Namun demi efektivitas, lakukan dengan gergaji mesin saja. Tujuannya, agar pohon dapat dipotong kecil-kecil, sehingga sampahnya gampang dibersihkan dan robohnya pohon bisa sepotong demi sepotong (tidak membahayakan).
  3. Penebangan Batang. Tahap ini dilakukan dengan gergaji, setelah semua dahannya terpotong. Hati-hati saat memotong bagian paling bawah. Potonglah sependek mungkin, tetapi jangan sampai gergajinya bertemu semen, paving, atau lantai. Bisa rontok gigi-gigi gergaji itu.
  4. Pencabutan Bonggol Akar. Tahap ini baru bisa dilakukan beberapa minggu atau bulan setelah penebangan. Kalau langsung saat itu juga, pasti sulit sekali, mengingat akar pohon masih hidup dan sangat kuat. Cara mencabut bonggol adalah dengan membuka lahan pohon seluas radius tiga meter. Gali hingga akar-akarnya terlihat, lalu potong hingga bonggol dapat didongkel dan dicabut. Tidak perlu menarik akar-akar sisanya, karena akar-akar itu akan membusuk sendiri di dalam tanah. Hanya bonggolnya yang perlu kita cabut agar tanah bisa kembali datar.

Untuk lebih jelas bagaimana tahap-tahap di atas dieksekusi, silakan tonton video Homerie ini:

Nanti, bila Ayah-Bunda ingin menanam pohon lagi, kami Keluarga Kecil Homerie menyarankan untuk memastikan halamannya luas dulu. Untuk amannya, pastikan tidak ada pagar, bangunan, sumur, atau pohon lain dalam radius 10 meter dari pohon tersebut.

Atau, jika belum memungkinkan punya halaman seluas itu, tanamlah pohon yang berakar serabut (tumbuhan monokotil) saja, seperti pepaya, kelapa, salak, dan semacamnya.

Kalaupun tetap ingin menanam pohon berakar tunggang dan berkambium seperti mangga, jambu, durian, dan lainnya, gunakan metode cangkok atau stek, karena akarnya akan "menjadi" serabut. Dengan begitu, minimal harapannya tidak ada masalah "akar yang merusak" ke depannya.

Selamat mempertimbangkan!


- Foto-foto: Dokumen Homerie

Komentar