Candi Prambanan: Termegah Sekaligus Tercantik
Terakhir, kami mengunjungi Candi Prambanan pada 2017. Sudah agak lama. Namun, sampai sekarang, kesannya begitu kuat. Tak heran jika candi ini dimasukkan dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO dan sering disejajarkan dengan Angkor Wat di Kamboja.
Candi megah bercorak Hindu ini bukan hanya yang terbesar di Indonesia, melainkan juga salah satu yang paling cantik di Asia Tenggara. Candi Prambanan dibangun sebagai persembahan untuk Trimurti: Brahma sang pencipta, Wisnu sang pemelihara, dan Siwa sang pemusnah.
Sejarah Candi Prambanan

Menurut Prasasti Siwagrha, pembangunan Candi Prambanan dimulai sekitar tahun 850 Masehi oleh Raja Rakai Pikatan, dan dilanjutkan oleh Balitung Maha Sambu pada masa Kerajaan Medang Mataram.
Nama asli kompleks ini sebenarnya Siwagrha alias “Rumah Siwa”. Memang, di ruang utama candi berdiri arca Siwa Mahadewa setinggi tiga meter.
Pembangunan Prambanan berlatar politik dan religius. Candi ini diduga dibangun sebagai tandingan candi-candi Buddha besar seperti Borobudur dan Sewu yang lokasinya tak jauh dari sana. Saat itu, kedua agama ini saling berebut pengaruh. Namun, semuanya dalam koridor yang damai dan toleran.
Nama “Prambanan” sendiri diduga berasal dari istilah teologi Hindu, para Brahman, yang merujuk pada kasta tertinggi dalam keyakinan itu. Ada juga tafsir lain yang menyebutkan arti “lima gunung”, dari bahasa Khmer pram (lima) dan banam (gunung).
Sekitar abad 10, raja Medang, Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaannya ke Jawa Timur. Candi Prambanan pun perlahan ditinggalkan, rusak, dan runtuh. Adanya letusan Gunung Merapi membuat Prambanan tertimbun dan makin dilupakan.
Candi ini baru ditemukan kembali pada 1733 oleh C.A. Lons. Bagaimanapun, pemugarannya sendiri baru dilakukan pada abad 20. Pelik dan lama sekali pekerjaan itu. Setelah Candi Siwa rampung, Presiden Soekarno meresmikannya pada 1953.
Oh ya, di balik sejarah sebenarnya dari proses pembangunan candi, Prambanan juga berhubungan dengan legenda Bandung Bondowoso dan Rara Jonggrang. Ayah-Bunda pasti pernah mendengarnya. Bandung ingin menikahi Rara, padahal ia baru saja membunuh ayahnya. Nekat juga, ya!
“Buatkan aku seribu candi dalam semalam, dan aku akan bersedia menikahimu!” ultimatum Rara Jonggrang, yakin bahwa itu mustahil dilakukan.
Namun, Bandung menyanggupinya. Ia sudah berhasil membuat 999 candi sebelum subuh, tetapi sang putri bertindak curang dengan membuat ayam-ayam berkokok lebih cepat. Bandung merasa di-prank. Jengkel, ia pun menyihir Rara menjadi candi (arca) ke-1.000.
Legenda ini berembus populer, dari mulut ke mulut, terutama ketika masyarakat di masa itu belum tahu sejarah yang sebenarnya.
Relief, Kosmologi, dan Cerita Dewa di Candi Prambanan

Secara administratif, kompleks Prambanan berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah (Jateng). Kompleks ini menghadap timur dan memiliki pintu di keempat penjuru mata angin, meski gerbang utama berada di sisi timur.
Total, terdapat 240 candi di kompleks Prambanan. Intinya terdiri dari delapan candi utama: tiga Candi Trimurti (Siwa, Wisnu, Brahma), tiga Candi Wahana (Nandi, Garuda, Angsa), dan dua Candi Apit. Di sekeliling mereka, terdapat pula ratusan Candi Perwara yang tersusun secara konsentris dan artistis.
Bangunan utama dari tempat wisata ini jelas Candi Siwa. Bangunannya paling tinggi, menjulang 47 meter. Puncaknya dimahkotai mastaka yang melambangkan intan atau halilintar.
Sementara itu, Candi Brahma dan Wisnu, yang berada di selatan dan utara, berukuran lebih kecil, yakni “hanya” 33 meter. Masing-masing menyimpan arca dewa setinggi hampir tiga meter.
Secara arsitektural, Prambanan mengikuti pakem Wastu Sastra dengan denah mandala dan bentuk ramping menjulang. Kompleks ini juga mencerminkan kosmologi Hindu yang membagi alam semesta menjadi tiga tingkat:
- Bhurloka: dunia fana (kaki candi)
- Bwahloka: alam antara (tubuh candi)
- Swahloka: alam para dewa (atap candi)
Yang membuat Candi Prambanan terasa “hidup” adalah relief-relief naratifnya. Di dinding galeri candi utama terukir kisah Ramayana dan Krishnayana. Relief ini dibaca dengan cara mengelilingi candi searah jarum jam atau biasa disebut pradaksina.
Jadi, lain kali Ayah-Bunda berkunjung kemari, jangan berjalan mengelilinginya secara acak, ya? Harus searah jarum jam, supaya bisa “membaca” cerita relief tersebut.
Peruntukan Candi Prambanan Hari Ini

Kini, Prambanan bukan hanya situs sejarah. Di seberang Sungai Opak, berdiri panggung Sendratari Ramayana. Kisah klasik yang bertokohkan Rama, Sinta, Rahwana, dan Anoman itu dipentaskan dengan latar cahaya candi di malam hari.
Bukan hanya itu, Prambanan juga menjadi tempat diadakannya Prambanan Jazz Festival. Kok, jazz? Apa hubungannya? Sederhana, Ayah-Bunda. Dengan mengadakan festival musik bertaraf internasional, pengelola ingin memperkenalkan kemegahan Prambanan kepada audiens global.
Selain itu, festival ini bertujuan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan memperpanjang masa tinggal mereka. Turis biasanya menginap lebih lama jika ada event besar begini, yang ujung-ujungnya berdampak positif pada hotel dan UMKM lokal.
Belum lagi ziarah religi dari turis-turis Hindu. Asal tahu saja, Kompleks Prambanan juga difungsikan sebagai pusat ibadah umat Hindu, sekaligus dilengkapi museum yang menyimpan berbagai arca dan temuan arkeologis.
Jadi, tertarik berkunjung ke Candi Prambanan, Ayah-Bunda?
Candi Prambanan (Prambanan Temple)
- Alamat: Jalan Raya Solo, Yogyakarta, Kranggan, Kelurahan Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55571 (Google Maps)
- HTM: Rp25.000-65.000
- Jam operasional: 06.00-16.30 (setiap hari)