Setya Syariah, Hotel Nyaman di Jantung Kota Madiun

Suasana Ramadan Masjid Al-Falah Surabaya

Suasana Ramadan Masjid Al-Falah Surabaya

Beberapa hari yang lalu, kami mengajak Ara dan Kira ke Masjid Al-Falah Surabaya. Ramadan hari ke-14, puasa Ara belum bolong. Kami sendiri juga heran, kenapa anak ini bisa kuat? Kami takjub karena dulu, Yayah dan Bunda sewaktu umur 6 tahun, sepertinya belum setangguh ini. Alhamdulillah kalau memang Ara lebih baik dari kami.

Sebagaimana Masjid Al-Akbar, Masjid Al-Falah juga menyediakan takjil dan hidangan berbuka yang didanai oleh para donatur. Bahkan bukan cuma berbuka bersama (bukber) gratis setiap harinya, Masjid Al-Falah juga menyediakan hidangan untuk sahur bersama pada 10 hari terakhir Ramadan.

Menjelang azan, jemaah terlihat antre untuk mendapatkan kurma dan segelas teh manis. Antreannya panjang, tetapi takjil itu sangat banyak, sehingga pasti kebagian. Yang agak susah sebenarnya adalah mendapatkan nasi bungkus atau nasi kotak, terutama untuk anak-anak seperti Ara.

Pembagian nasi bungkus untuk berbuka di Al-Falah menggunakan kupon. Beberapa takmir akan membagikan kupon ini per saf. Tepat setelah Salat Magrib, takmir akan meminta jemaah tidak salat sunah ba'diyah dulu, untuk memberikan kesempatan beberapa petugas yang hendak membagikan kupon orang per orang.

Setelah memperoleh kupon itu, kita antre lagi untuk menukarkannya dengan sekotak nasi. Sampai sini, tidak ada masalah.

Masjid Al-Falah Kurang Ramah Anak?

Namun, soal pembagian hidangan utama berbuka, anak-anak seolah dipinggirkan, entah mengapa. Yayah melihat dengan mata kepala sendiri, petugas pembagian menegur dengan nada tinggi, “Jangan anak-anak dulu, jangan anak-anak dulu! Lihat, masih banyak orang dewasa yang belum dapat!”

Akhirnya, anak-anak laki yang sudah mengantre pun hanya berdiri terpaku, melongo. Kasihan. Di bagian jemaah perempuan, Ara pun ternyata senasib. Tidak mendapat kupon. “Oh, berarti, aturan dari takmir memang seperti ini,” batin Yayah.

Namun kebijakan ini tetap saja menyisakan pertanyaan, kenapa harus dibeda-bedakan seperti ini? Toh, anak-anak itu kemungkinan puasa juga. Ara saja belum pernah bolong sampai hari ini. Puasanya penuh, subuh sampai magrib, sebagaimana muslim dewasa.

Bukankah anak-anak semacam ini akan merasa lebih bersemangat bila bisa mendapat jatah makanan seperti jemaah dewasa. Bukan masalah nilai atau harag nasi bungkusnya, tetapi perasaan dihargainya itu yang penting.

Namun, sudahlah, takmir Masjid Al-Falah pasti memiliki alasan sendiri mengapa anak-anak cenderung dipinggirkan ketika buka bersama.

Hal lain yang menyebabkan masjid ini seolah tidak didesain untuk anak-anak adalah halaman dan ruang-ruangnya yang (terlanjur) terbatas. Maklum, Masjid Al-Falah terletak di pinggir jalan protokol kota. Kanan-kiri adalah gedung. Kalau mau diperluas, pasti akan sangat mahal.

Jadi, berbeda dengan Masjid Al-Akbar yang halamannya luas sehingga kita seperti bisa beribadah sekaligus berwisata keluarga, Masjid Al-Falah sepertinya difokuskan untuk ibadah dan mencari ilmu. Anak-anak akan canggung untuk berlarian di sini. Kecuali di ruangan utama masjid, yang artinya kurang pantas juga untuk dipakai bermain-main.

Faktor lain yang membuat Masjid Al-Falah terkesan kurang ramah anak adalah bacaan salatnya yang panjang-panjang. Memang, lantunan sang imam begitu merdu, dengan surah-surah yang non Juz Amma, salat pun menjadi lebih berkualitas. Tetapi umumnya, anak tidak betah salat selama itu. Witirnya saja menggunakan kunut yang panjang, mungkin 15 menitan.

Seorang jemaah belakangan mengatakan, kunut panjang (yang tak lain adalah doa) biasanya dilantunkan saat negara sedang genting.

Ademnya Masjid Al-Falah Surabaya

Terlepas dari hal-hal di atas, Masjid Al-Falah sama dengan masjid-masjid besar lainnya yang dikelola secara profesional. Meskipun bangunannya tua dan sudah mulai kusam, tetapi kebersihannya terjaga. Baik teras, ruang utama, tempat wudu, maupun kamar mandi.

Karpetnya juga bersih dan empuk, enak dipakai sujud. Bahkan, Kira sampai tak tahan untuk tidak berbaring dan berguling-guling, seperti rumahnya sendiri saja.

Selain itu, adem juga di sini, walaupun ketinggian plafonnya paling-paling cuma delapan meteran. Kesejukan itu tak lain karena puluhan kipas angin dan belasan AC yang dinyalakan bersamaan “mengepung” ruangan 1.264 meter persegi ini.

Tarawih di Masjid Al-Falah berjumlah delapan rakaat (empat kali salam), ditutup dengan witir yang berjumlah tiga rakaat (sekali salam). Seorang guru bahasa Arab pernah memberi tahu Yayah bahwa tarawih di Masjid Al-Falah memang tidak bisa lama-lama, karena setelahnya akan ada kelas-kelas.

Namun praktiknya, tarawih di sana lumayan lama. Mulai sekitar pukul 18.50 (isya), dan baru selesai pukul 20.30 lebih (witir). Hampir dua jam.

Kali ini, Ara tidak ikut salat. Hanya Isya dan tarawih awal. Karena selain capai, dia juga ditugaskan menjaga Kira selama Bunda salat.

Berikut ini video dokumentasi Keluarga Kecil Homerie saat berkunjung dan mereview Masjid Al-Falah Surabaya:


Masjid Al-Falah Surabaya

  • Alamat: Jalan Raya Darmo 137 A, Surabaya 60264, Wonokromo, Jawa Timur
  • Telepon: (031) 5676085 / 5633949
  • Luas tanah: 2.594 meter persegi
  • Luas bangunan: 1.264 meter persegi
  • Daya tampung: 4.500 jemaah
  • Diresmikan: 27 September 1973

Komentar