Taman Trunojoyo: Paru-paru Kota Malang

Berjemur di Alun-alun Tugu Malang

Berjemur di Alun-alun Tugu Malang

Sebagaimana kota-kota lainnya, Malang juga memiliki tugu. Salah satu yang ikonik adalah Tugu Malang. Gambarnya telah banyak menghiasi aksesori atau kaus suvenir kota dingin ini.

Alun-alun Tugu Malang dulu disebut Alun-alun Bunder, karena memang bentuknya bundar. Dikelilingi oleh taman yang asri dan kolam teratai, tempat ini sering disinggahi warga Malang, wisatawan lokal, dan turis mancanegara.

Posisi Strategis Alun-alun Tugu Malang

Letak alun-alun ini sangat strategis. Itu pula alasan Keluarga Kecil Homerie mampir. Setelah menyelesaikan urusan keluarga di Kota Malang, dalam perjalanan menuju stasiun, kami membelok kemari. Taman ini sangat dekat dengan mana-mana:
  • SMAN 1 Malang: 30 meter
  • DPRD Kota Malang: 48 meter
  • Balai Kota atau Kantor Pemerintah Kota Malang: 120 meter
  • Aula Skodam V Brawijaya: 150 meter
  • Hotel Tugu Malang: 190 meter
  • Stasiun Malang Kota Baru: 270 meter
  • Taman Trunojoyo: 350 meter
  • Taman Rekreasi Kota (Tarekot) Malang: 450 meter
  • Pasar Bunga Kota Malang: 550 meter
  • Palmyra Hostel: 1.500 meter
Rasanya, sayang kalau melewatkan taman ini begitu saja.

Ada Apa di Alun-alun Tugu Malang?

Alun-alun ini terbagi menjadi beberapa bagian. Di sisi bagian luar, terdapat pagar semen yang modern, juga trotoar yang nyaman untuk dipakai berjalan-jalan, bahkan menongkrong.

Di bagian dalam, terdapat taman rumput dan bunga yang lumayan luas. Dulu, kita boleh bermain di atasnya, tetapi sekarang sudah dilarang. Memang seharusnya taman begini tidak boleh diinjak-injak. Kecuali kalau yang hijau-hijau itu bukan tanaman, melainkan karpet seperti di Alun-alun Bandung.

Kita dapat berjalan-jalan dengan tenang di sini, tetapi sebaiknya jangan lakukan pada pukul 10.00-15.00. Terik sekali, Ayah-Bunda! Tidak ada pohon rindang atau shelter sama sekali di Alun-alun Tugu Malang. Pantas saja saat kami datang sekitar pukul 11.00, tempat ini sepi.

Lengang sekali. Nyaman. Namun, kami jadi seperti berjemur saja. Makanya, kunjungan kami di Alun-alun Tugu Malang sepertinya tidak lebih dari sepuluh menit.

Mengunjungi Alun-alun Tugu Malang idealnya pagi, sore, atau malam hari. Tentu saja ketika tidak hujan. Alun-alun Tugu Malang akan tampak indah ketika malam. Karena bunga-bunga plastik yang kami kira hanya dekorasi itu ternyata lampu yang menyala indah sepanjang malam.

Lalu, lebih ke tengah alun-alun, ada kolam teratai atau lotus. Sayang, kolam tersebut kurang terawat, sehingga airnya keruh dan kotor, hampir mirip rawa-rawa. Namun, sesekali kita masih dapat melihat ikan di dalam kolam yang mencari makan.

Nah, tugu runcing itu terletak di tengah-tengah kolam. Praktis, tugu ini berdiri gagah tepat di bagian paling tengah dari alun-alun.

Ingin tahu bagaimana keadaan Alun-alun Tugu Malang persisnya? Yuk, tonton video singkat Keluarga Kecil Homerie ini:


Sejarah Alun-alun Tugu Malang

Seorang Belanda, Thomas Karsten, membangun alun-alun ini pada 1920. Modelnya hampir sama seperti yang kita lihat saat ini: taman yang memiliki kolam teratai dan di tengah-tengahnya berdiri sebuah tugu.

Belanda merasa perlu membangun alun-alun ini sebagai simbol kuku-kuku kekuasaannya di Kota Malang. Pemerintah kolonial menganggap Malang terlalu berbau indisch, jadi perlu "dibelandakan". Makanya, alun-alun ini kemudian dinamai JP Coen Plein untuk menghormati Gubernur Jenderal Jaan Pieterzoen Coen.

Namun, fondasi tugu yang lebih baik baru dibangun pada 1945. Belanda yang saat itu melakukan Agresi Militer setelah tidak terima Indonesia merdeka tanpa restu mereka lalu menghancurkan tugu ini.

Pada 1952, Tugu Malang kembali dibangun. Lalu, Presiden Soekarno meresmikannya pada 20 Mei 1953.

Alun-alun Tugu Malang

  • Taman Kota (town square)
  • Dibangun: 1920
  • Jam buka: 24 jam
  • Alamat: Jalan Tugu, Kiduldalem, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65111, Indonesia (Google Maps)
  • Luas: 11.923 meter persegi

Komentar