Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Museum Olahraga Surabaya (MOS): Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat

Museum Olahraga Surabaya (MOS): Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat

Warga Surabaya, baik secara perorangan maupun tim, banyak berprestasi di bidang olahraga. Bukti-bukti tersebut biasanya disimpan oleh atletnya sendiri. Kita yang bukan atlet hanya dapat melihatnya melalui media massa, tidak bisa secara langsung. Itulah yang mendasari dibukanya Museum Olahraga Surabaya (MOS).

Mulai dari pakaian olahraga, medali, trofi, sampai piala kejuaraan dapat kita lihat di sini. Baik yang asli maupun sekadar replika. Saat ini, koleksi di MOS masih sedikit. Museumnya sendiri tidak sebesar museum serupa di Jakarta. Namun, tentu saja, Pemkot Surabaya tidak akan berhenti mengumpulkan koleksi dan mengembangkan MOS.


Latar Belakang Berdirinya Museum Olahraga Surabaya

Latar Belakang Berdirinya Museum Olahraga Surabaya

Museum ini berlokasi di kompleks yang dahulu bernama Gelora Pancasila. Saat remaja, Yayah pernah bertanding karate di gedung legendaris Suarabaya itu. MOS diresmikan pada 8 Mei 2021 oleh Menteri Sosial Tri Rismaharini.

Sejatinya, MOS merupakan impian Tri Rismaharini sejak lama. Pasalnya, Surabaya adalah kota pahlawan. Sementara di sisi lain, atlet boleh dibilang merupakan pahlawan yang telah membela kehormatan bangsa dan negara, apalagi jika ia sukses mengukir prestasi di kancah nasional maupun internasional.

Maka sudah sepantasnya Surabaya memiliki museum yang khusus mengapresiasi para pahlawan ini. Antara lain dengan melokalisasi penyimpan benda-benda bersejarah milik para atlet, baik benda yang mereka kenakan saat bertanding (kostum, kartu peserta, sepatu) maupun bentuk-bentuk penghargaan berupa piala atau medali.

Dalam rangka mengumpulkan item-item yang akan disimpan di MOS, Risma sampai mendatangi sendiri beberapa atlet, seperti Alan Budikusuma dan Rudi Hartono. Beberapa menyambut hangat. Mereka berkenan memberikan barang-barang terkait cabang olahraga yang mereka tekuni.

Sejauh ini, total ada 26 atlet yang koleksinya dipajang di museum ini. Salah satunya Lilies Handayani, atlet panahan legendaris Surabaya. Untuk museum ini, Lilies menyumbangkan alat panahannya saat memenangi kejuaraan nasional dan internasional.

Di antara lebih dari 235 item dalam MOS, ada bola voli yang digunakan Andy Ardiansyah pada ajang Asian Beach Games Bali 2008.

Ke depannya, pasti makin banyak atlet yang berkenan menyumbangkan koleksi kebanggaannya di Museum Olahraga Surabaya.

Fasilitas Museum Olahraga Surabaya (MOS)

Fasilitas Museum Olahraga Surabaya

Dari luar, MOS memang tampak kecil. Dan karena museum ini baru dibuka untuk publik pada 2021, keberadaannya belum setenar museum-museum lain di Surabaya, seperti Museum 10 Nopember.

Kendati demikian, saat Keluarga Kecil Homerie berkunjung, kawasan museum ini sudah ramai sekali. Beberapa menikmati koleksi museum. Beberapa lainnya asyik berolahraga, baik di halaman depannya maupun di lapangan Thor yang terletak di sebelahnya. Museum berlantai dua ini terbagi menjadi tiga jenis koleksi, yakni:

  1. Historika. Kumpulan item yang diperoleh dari hasil temuan, ekskavasi, atau bukti material bersejarah. Jumlahnya sekitar 169 item. Termasuk di dalamnya, perlengkapan olahraga tradisional, seperti bakiak, karung, egrang batok kelapa, yang biasa digunakan saat perayaan 17 Agustus.
  2. Heraldika. Koleksi berupa tanda penghargaan atau jasa, kepangkatan, dan lambang atau logo. Jumlahnya 65 item.
  3. Teknologika. Item terkait benda dengan unsur teknologi. Jumlahnya masih satu buah, yakni fasilitas Augmented Reality (AR). Kita bisa berfoto virtual dengan Alan Budi Kusuma, Minarti Timur, dan beberapa atlet kondang Surabaya lainnya. Sayangnya, saat kami berkunjung, fasilitas AR ini sedang tidak bisa digunakan.

Setelah mengunjungi MOS, semangat berolahraga kami mendadak muncul. Apalagi di sampingnya, terdapat Lapangan Thor yang bebas digunakan warga selama 24 jam. Ara bawaannya ingin berlari-lari di lapangan sepak bola maupun trek atletiknya. Sebagaimana para pemuda yang lebih dahulu di sana.

Namun, saat itu, kami tidak membawa pakaian olahraga. Apalagi hanya mengenakan sepatu sandal sebagai alas kaki. Kapan-kapan saja, deh!

Yang jelas, MOS adalah sukses dalam memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat.

Museum Olahraga Surabaya (MOS)

Ayah-Bunda ingin berkunjung ke MOS juga sambil mengajak putra-putrinya? Silakan. Catat keterangan ini:

  • Alamat: Jalan Indragiri 6, Darmo, Kecamatan Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur 60241 (Google Maps)
  • Jam Buka: Setiap hari pukul 08.00-15.00
  • HTM: Gratis (tetapi harus pesan dahulu melalui Tiket Wisata Surabaya)
  • Luas: +- 1,5 hektare

Posting Komentar untuk "Museum Olahraga Surabaya (MOS): Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat"