Berkenalan dengan ‘Sang Pembunuh’ di Museum Kanker Surabaya

Daftar Isi
Mengenal ‘Sang Pembunuh’ di Museum Kanker Surabaya

Beberapa waktu lalu, kami singgah di Museum Kanker Surabaya. Mungkin tidak banyak yang tahu, tanggal 4 Februari selalu diperingati sebagai Hari Kanker Sedunia. Tahukah Ayah-Bunda, kanker adalah penyebab kematian terbanyak kedua di seluruh dunia? Maka penting sekali untuk menyadari dan mengenalkan si kecil akan bahaya dari penyakit tersebut.

Itulah salah satu tujuan didirikannya museum kanker satu-satunya di Indonesia ini. Seperti apa isinya?


Museum Kanker Indonesia yang Pertama

Museum Kanker Indonesia yang Pertama

Inilah museum kanker pertama di Indonesia, dan mungkin satu-satunya. Museum Kanker Surabaya didirikan pada akhir 2013 oleh Yayasan Kanker Wisnuwardhana, atas gagasan dr. Ananto Sidohutomo.

Dengan museum ini, harapannya masyarakat lebih peduli dan memahami penyakit mematikan ini. Di sini, kita bisa mengenali jenis-jenis kanker, menghindarinya, mengetahui cara mendeteksinya, dan bagaimana penanganannya jika terlanjur terserang.

Jangan pernah memandang remeh, hanya karena orang tua dan kakek-nenek kita tidak ada yang mengidap penyakit pembunuh ini. Di Indonesia, setidaknya sudah ada 347 ribu penderita kanker, lo! Jumlah ini bisa bertambah jika terdeteksi lagi pengidap kanker baru, tetapi bisa juga berkurang jika ada penderita yang meninggal.

Ada banyak pengetahuan dan tips yang dapat kita peroleh di Museum Kanker Surabaya. Antara lain, laki-laki ternyata banyak menderita kanker paru-paru dan usus, sedangkan perempuan banyak mengidap kanker payudara dan leher rahim (serviks).

Selain jenis-jenis kanker tersebut, masih ada kanker kulit, kanker darah, dan sebagainya. Jangan salah, seluruh bagian di tubuh kita dapat ditumbuhi oleh sel kanker, Ayah-Bunda. Pengecualiannya hanya kuku dan rambut.

Koleksi Museum Kanker Surabaya

Koleksi Museum Kanker Surabaya

Di museum ini, kita bisa melihat aneka bentuk kanker yang sudah diawetkan. Sebenarnya, bagian ini agak mengerikan. Bukan untuk dilihat anak-anak, apalagi yang di bawah 10 tahun. Namun, bagaimana lagi? Mungkin pihak museum berasumsi, dengan melihat bentuknya, orang-orang bisa termotivasi untuk menjauhi kanker dan lebih serius menjaga kesehatannya.

Selain bentuk-bentuk kanker, koleksi lain yang tidak kalah mencolok adalah tulisan besar yang mengharukan, "MOM... PLEASE DON'T DIE." Di bawah papan tersebut, terdapat mesin hitung digital bertuliskan “Tahun
ini kanker serviks membunuh 313.834 perempuan.”

Angka ratusan ribu itu berubah sewaktu-waktu, tergantung data terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dan, itu hanya dari kanker serviks, lo! Belum jenis-jenis kanker lainnya.

Selain itu, di ruangan utama juga ada Dinding Doa. Bagi siapapun yang ingin mendoakan mereka yang terkena kanker, silakan menulis dan menempelkan doanya di dinding ini.

Oleh sebab itu, Museum Kanker Surabaya disebut-sebut sebagai museum paling emosional. Bagaimana tidak, angka kematiannya terus bertambah dan penyakitnya dapat menyerang siapa saja, termasuk kita, keluarga, dan orang-orang yang kita sayangi. Naudzubillah min dzalik!

Fasilitas Museum Kanker

Fasilitas Museum Kanker

Di museum ini juga, terdapat contoh obat dan tanaman obat keluarga (Toga) sebagai upaya pencegahan dan penyembuhan.

Dalam bentuk kering, obat-obat itu disimpan di stoples-stoples di ruang utama. Dalam bentuk tanaman dalam pot, obat-obat itu ditumbuhkan di halaman belakang museum. Ada kencur, kunyit, kumis kucing, tapak dara, sirih, dan lain-lain.

Di Museum Kanker Surabaya, terdapat juga Pusat Deteksi Dini dan Diagnostik Kanker yang berfokus pada kanker serviks dan kanker payudara.

Ada pemeriksaan pap smear untuk mendeteksi kanker serviks. Ada juga pemeriksaan payudara melalui fine needle aspiration cytology (FNAC), metode pendeteksian kanker dengan pengambilan sampel melalui jarum halus untuk diperiksa di laboratorium patologi. Prosesnya hanya dua jam.

Sosialisasi Pemeriksa Payudara Sendiri (Sadari) juga menjadi misi di Museum Kanker Surabaya ini. dr. Ananto menduga, penyebab tingginya kematian akibat kanker payudara adalah karena masih banyak perempuan yang tidak tahu cara mendeteksi benjolan dan apa tindakan yang harus dilakukan.

Total tersimpan 30 alat peraga kanker yang dipamerkan di Museum Kanker Indonesia. Terdiri dari alat peraga sel kanker tulang, kanker payudara, kanker sel getah bening, kanker paru-paru, dan kanker-kanker lainnya.

Museum ini juga dilengkapi double headed microscope untuk melihat sel kanker, serta berbagai peraga terkait sel kanker lainnya.

Ada penjelasan-penjelasan mengenai gejala hingga penanganan berbagai macam kanker di setiap sudut ruangan. Saking detailnya, sampai-sampai dipajang juga contoh pakaian dalam yang baik untuk kesehatan payudara dan rahim. Ini ada di ruangan berlabel “Sepenuh Asa”.

Mau tahu sejarah kanker? Bisa.

Ayah-Ibu lanjutkan saja melangkah ke halaman belakang museum. Di sana, tertempel poster lebar mengenai perkembangan kanker. Mulai dari 80 juta tahun yang lalu, saat sel kanker pertama ditemukan di fosil dinosaurus, hingga kanker yang paling modern.

Tidak menyangka, kan, penyakit ini sama tuanya dengan dinosaurus? Kami membayangkan mamalia-mamalia semacam kerbau purba pun bisa terkena kanker.

Kekurangan Museum Kanker Surabaya

Kekurangan Museum Kanker Surabaya

Museum tematik ini tergolong unik dan sangat bermanfaat. Sayang, beberapa hal masih perlu dibenahi di sini.

Misalnya, ketika kami berkunjung ke sini, lampu sedang padam. Entah lantaran mati listrik atau sengaja tidak dinyalakan. Ini menimbulkan ketidaknyamanan bagi pengunjung, terutama yang mau berfoto atau membuat video dokumentasi. Walau demikian, ada juga ruangan yang lampunya dinyalakan.

Tempatnya juga terkesan kotor dan kurang terawat. Sayang sekali. Dari depan saja, jalannya tampak semrawut kabel PLN.

Eksterior bangunannya tampak kuno peninggalan Eropa. Itu seharusnya menjadi poin plus museum ini. Sayangnya, museum sengaja dibiarkan tidak bersih. Bahkan di pintunya, kami menemukan bekas tempelan kertas yang dicabut.

Sementara, halaman belakang alias taman yang mestinya asri pun dindingnya tampak kumuh dan berdebu. Apa boleh buat, poster Sejarah Kanker dan kamar kecil pun jadi tampak agak jorok.

Kepada pengelola Museum Kanker Surabaya, yuk benahi. Sayang sekali museum seunik dan sebermanfaat ini bila malah dijauhi masyarakat, bukan?

Museum Kanker Surabaya

  • Alamat: Wisnuwardhana Cancer Foundation, Jalan Kayoon 16-18, Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Surabaya, Jawa Timur 60271 (Google Maps)
  • Telepon: +62 31 5342181
  • Jam Buka: Senin-Minggu pukul 09.00-21.00