Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Musim Hujan, Musimnya Bekicot

Musim Hujan, Musimnya Bekicot

Ayah-Bunda, coba perhatikan kebun atau tempat-tempat terbuka yang banyak tanamannya. Ketika musim hujan tiba, pada pagi hari, biasanya banyak bekicot merayap di tanaman-tanaman itu. Bisa di batang, dahan, daun, atau buahnya.

Bekicot memang hewan musim hujan. Meski pada musim kemarau pun mereka tidak lantas mati karena memiliki cangkang yang bisa menjaga suhu tubuhnya agar tetap lembap. Yuk, kita bahas sekilas mengenai binatang berlendir ini.


Mengenal Bekicot

Mengenal Bekicot

Bekicot (Lissachatina fulica) berasal berasal dari Afrika Timur. Hewan bertubuh lunak atau moluska ini mampu berkembang biak dengan cepat. Bayangkan saja, seekor bekicot bisa bertelur hingga seribu telur tiap tahun.

Seekor bekicot bisa hidup tiga sampai lima tahun. Tidak heran bila hewan ini bisa tersebar ke seluruh dunia dalam waktu relatif singkat. Apalagi kalau habitatnya adalah tempat-tempat lembap.

Bekicot berbeda dengan siput. Bekicot memiliki tubuh dan cangkang melingkar. Cangkang tersebut melindunginya dari panas dan musuh. Hewan ini tidak bisa berpindah cangkang. Sebagaimana kura-kura, cangkang bekicot juga ikut membesar seiring tumbuh kembang bekicot.

Persamaan bekicot dan siput adalah, keduanya memiliki tentakel panjang yang mencuat dari kepalanya. Seperti tanduk. Hanya, tentakel ini memiliki mata di bagian ujungnya.

Keduanya juga memiliki cara unik dalam bergerak, yaitu dengan meluncur di atas perutnya. Mereka memiliki cairan berlendir yang membantu perut itu meluncur.

Kulineran Bekicot, Siapa Mau?

Kulineran Bekicot, Siapa Mau?

Dalam ekosistem, keberadaan bekicot umumnya dianggap sebagai hama. Terutama oleh tukang kebun. Bagaimana tidak, bekicot bisa memakan tanaman, mulai dari akar sampai daunnya. Namun, bekicot juga bisa menjadi makanan bagi ular, katak, dan burung.

Uniknya, bagi orang Prancis, bekicot dianggap sebagai makanan yang lezat. Di negara ini, dengan tekstur daging yang kenyal seperti kerang, bekicot biasa disebut escargot.

Cara mengolahnya cukup sederhana. Daging bekicot dikeluarkan dari cangkangnya, kemudian ditumis dengan bawang putih, mentega, dan kaldu ayam untuk menghilangkan aroma amisnya.

Setelah itu, daging bekicot dimasukkan kembali ke dalam cangkangnya dan disajikan dengan baguette (roti). Sepertinya lezat, ya?

Di berbagai daerah di Indonesia, bekicot terkadang diolah menjadi sate bekicot. Konon, daging bekicot memiliki khasiat sebagai obat penyakit asma dan gatal-gatal. Cukup pecahkan cangkang bekicot hingga keluar lendirnya yang bisa langsung dimanfaatkan.

Daging bekicot juga berguna untuk meningkatkan kesehatan tulang, mencegah penyakit jantung, mencegah anemia, merawat kesehatan kulit, dan mempercepat penyembuhan luka.

Bekicot juga mengandung 60% protein dan asam amino yang tergolong lengkap. Vitamin A dan C juga bisa ditemukan dalam tubuh bekicot. Cangkangnya saja kaya akan kalsium dan bisa dijadikan pakan ternak, dengan cara mengolahnya menjadi tepung.

Peternak lele atau ayam, seperti kakek Ara dan Kira di Bojonegoro, juga memanfaatkannya sebagai pakan berprotein tinggi. Bekicot itu murah dan mudah dipelihara, lo.

Kalau Ayah-Bunda juga mau membudidayakannya, pastikan mereka bebas dari parasit. Karena habitatnya di tempat yang basah atau lembap, bekicot bisa dengan mudah dihinggapi berbagai parasit yang berisiko bagi kesehatan.

Catatan terakhir, bagi orang Islam, sebaiknya jangan memakan bekicot. Hukumnya haram, karena ini termasuk hewan yang menjijikkan (mustakhbas). Bekicot hanya boleh dimakan dalam keadaan darurat. Misalnya ketika Ayah-Bunda tersesat di hutan, kehabisan bekal, dan tidak ada lagi yang bisa dimakan selain bekicot.

Posting Komentar untuk "Musim Hujan, Musimnya Bekicot"