Membincang Mata Uang Negara-Negara Dunia

Table of Contents
  Membincang Mata Uang Negara-Negara Dunia

Apa hal yang pertama Ayah-Bunda lakukan saat berencana melancong ke luar negeri? Tentu saja selain mengurus visa dan paspor. Ya, membawa bekal uang yang berlaku di negara itu! Hampir setiap negara atau kawasan memiliki mata uangnya sendiri, dan kemungkinan besar itu bukan rupiah.

Ada Ringgit Malaysia (MYR), Dolar Singapura (SGD), Dolar Brunei (BND), Baht Thailand (THB), Dolar Australia (AUD), Riyal Saudi (SAR), Yuan Cina (CNY), Won Korea (KRW), Yen Jepang (JPY), Ruble Rusia (RUB), dan masih banyak lainnya.

Mata uang-mata uang tersebut bukan sekadar alat tukar di pasar atau angka-angka yang tertera di saldo bank. Ada perwujudan kedaulatan negara, cerminan stabilitas politik, dan cerita di dalamnya.

Perkembangan Mata Uang Dunia

Perjalanan uang adalah cermin dari kemajuan peradaban manusia dalam memecahkan masalah kepercayaan dan efisiensi.

1. Sistem barter

Sebelum sistem perbankan modern yang kita kenal hari ini berdiri, manusia purba mengandalkan sistem barter: barang “dibeli” dengan barang.

Sistem ini banyak kelemahannya, terutama karena sangat bergantung pada kesesuaian kebutuhan dua belah pihak secara bersamaan.

Jika seorang petani yang memiliki beras sedang membutuhkan daging, ia harus menemukan peternak yang tidak hanya memiliki daging, tetapi juga sedang membutuhkan beras. Agak susah, kan? Bisa saja di peternak bilang, “Iya, aku punya daging. Tapi masalahnya, stok berasku masih banyak. Sori, belum butuh.”

Kendala logistik ini mendorong manusia untuk mencari media perantara yang dibutuhkan oleh banyak pihak sekaligus. Inilah cikal bakal uang komoditas.

2. Uang komoditas

Sekitar tahun 6000 SM, manusia mulai bereksperimen dengan berbagai bentuk uang komoditas, sebagai alat pembelian yang universal.

Komoditas itu bervariasi, tergantung pada kelangkaan dan kegunaannya di wilayah tersebut. Di satu tempat, garam menjadi komoditas yang sangat berharga karena fungsinya sebagai pengawet makanan. Di tempat lain, kerang atau batu mulia digunakan karena keindahannya dan kemudahannya untuk dibawa.

Akan tetapi, uang komoditas seperti ini ternyata memiliki kelemahan mendasar: berat, sulit dibagi menjadi satuan kecil, dan ada yang bisa rusak atau busuk.

3. Uang logam

Lompatan besar terjadi sekitar tahun 700 SM di wilayah Lydia (sekarang Turki). Di sana, koin logam pertama kalinya dicetak. Emas, perak, dan tembaga merevolusi perdagangan, karena logam-logam ini tahan lama, mudah dibawa, dan dapat distandarisasi berat serta kemurniannya.

Kekaisaran Romawi kemudian memperluas konsep ini dengan menetapkan standar berat koin yang ketat. Lahirlah sistem moneter lintas batas yang pertama di dunia Barat.

4. Uang kertas

Munculnya uang kertas membawa tren baru dalam perekonomian. Dinasti Tang di Cina pada abad ke-7 menjadi pelopornya. Awalnya, kertas-kertas itu berfungsi sebagai surat bukti penyimpanan logam mulia.

Penjelajah terkenal bernama Marco Polo membawa konsep “kertas ajaib” ini ke Eropa pada abad ke-13. Namun, masyarakat Eropa baru benar-benar mengadopsinya secara luas pada abad ke-17 melalui inisiatif bank-bank di Swedia dan Inggris.

Bank of England yang berdiri pada 1694 memainkan peran kunci dalam mengubah uang kertas dari sekadar tanda terima menjadi mata uang nasional.

5. Uang fiat

Transisi paling signifikan dalam sejarah modern adalah perpindahan dari standar emas ke uang fiat, uang yang ditentukan oleh pemerintah. Nilai mata uang fiat tidak dijamin oleh komoditas fisik seperti emas, melainkan oleh janji dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah yang menerbitkannya.

Asal Ayah-Bunda tahu, hingga abad ke-19, sebagian besar mata uang dunia diikat langsung dengan cadangan emas fisik. Namun, setelah gejolak Perang Dunia I, sistem ini mulai runtuh dan digantikan oleh uang fiat.

6. Uang kripto

Saat ini, kita menyaksikan fajar baru dengan kehadiran mata uang digital dan kripto, seperti Bitcoin (BTC) yang muncul pada 2009. konon diciptakan oleh Satoshi Nakamoto. Entah siapa ia.

Yang jelas, tidak ada bank sentral, pemerintah, atau perusahaan yang bisa mengendalikannya. Istilah kerennya: terdesentralisasi. Nah, karena makin banyak orang yang “percaya” dan beli, nilainya pun terus berkembang, dari harga 40 ribuan rupiah pada 2011, sekarang sudah Rp1 milyar lebih pada 2026.

Selain BTC, ada ribuan kripto yang diciptakan oleh perusahaan-perusahaan swasta, seperti Ethereum (ETH), Solana (SOL), Tether (USDT), DogeCoin (DOGE), PAX Gold (PAXG), dan lain-lain. Masing-masing memiliki latar belakang dan tujuannya.

Kesamaan dari semua mata uang kripto itu: uangnya hanya beredar di dunia maya, kursnya naik-turun secara liar, mata uangnya tidak bisa dipegang atau difisikkan (seperti saldo bank yang bisa ditarik melalui ATM), karena itu sebagian ulama mengharamkannya.

Namun, melihat dari jalurnya yang berada di teknologi blockchain yang supercanggih, terdesentralisasi, dan sangat demokratis, bisa saja kripto adalah mata uang masa depan.

Mengapa Dunia Tidak Menggunakan Satu Mata Uang Saja?

Anak-anak sering menanyakan pertanyaan lugu ini. Memang, mengadopsi satu mata uang tunggal kelihatannya jauh lebih praktis dan simpel. Satu mata uang itu akan menghemat biaya penukaran uang dan mempermudah perjalanan internasional.

Akan tetapi, masalahnya, mata uang adalah salah satu identitas nasional, sama seperti bendera dan lagu kebangsaan. Rupiah, misalnya, merupakan simbol kedaulatan bangsa Indonesia.

Di luar itu, setiap negara memiliki kondisi ekonomi yang unik. Beberapa mungkin sedang mengalami pertumbuhan pesat yang memicu inflasi, sementara yang lain mungkin sedang berjuang melawan resesi.

Dengan memiliki mata uang sendiri-sendiri, sebuah negara (melalui bank sentralnya) justru lebih nyaman, karena dapat mengatur suku bunga serta jumlah uang yang beredar untuk menstabilkan ekonomi domestik mereka sendiri.

Tengok saja Uni Eropa dengan Euro-nya, Ayah-Bunda. Ketika 19 negara sepakat untuk sama-sama menggunakan Euro, mereka memang memperoleh kemudahan dalam perdagangan. Namun, mereka kehilangan kemampuan untuk menyesuaikan nilai mata uang itu saat menghadapi krisis individu.

Ketika Yunani mengalami krisis ekonomi 2008, dampak negatifnya menjalar lebih cepat ke seluruh zona Euro. Sebab, mereka terikat pada satu mata uang yang sama.

Tanpa mata uang sendiri, negara yang sedang krisis tidak bisa melakukan devaluasi (penurunan nilai uang) untuk membuat barang ekspor mereka lebih murah di pasar global.

Selain itu, perbedaan mata uang antarnegara berfungsi sebagai mekanisme pengaman terhadap kejahatan keuangan internasional. Dengan adanya sistem penukaran uang dan regulasi antarnegara, aliran dana ilegal lebih mudah untuk dilacak.

Adanya perbedaan nilai tukar atau kurs juga mencerminkan tingkat kepercayaan dunia terhadap kesehatan ekonomi sebuah negara. Kurs adalah “rapor” ekonomi yang dilihat oleh investor global.

Apa Mata Uang Terkuat dan Terlemah di Dunia?

Apa Mata Uang Terkuat dan Terlemah di Dunia?

Ayo, tebak, apa mata uang terkuat di dunia?

Salah kalau Ayah-Bunda menebak Dolar Amerika atau USD! Kekuatan sebuah mata uang tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar negara itu atau seberapa sering mata uangnya tampil di film-film Hollywood. Meskipun, karena lobi-lobi geopolitik yang kuat, USD saat ini memang masih standar mata uang dunia.

Hingga awal tahun 2026, daftar mata uang terkuat di dunia tetap didominasi oleh negara-negara di kawasan Teluk Arab. Berikut ini daftar lengkapnya. Peringkat dapat berubah-ubah sesuai perkembangan zaman.

10 Mata Uang Terkuat di Dunia (terhadap USD)

  1. Dinar Kuwait (KWD). Nilainya sekitar 3,28 USD. Ini akibat dari ekspor minyak masif dan cadangan devisa yang luar biasa.
  2. Dinar Bahrain (BHD). Nilainya sekitar 2,65 USD. Hampir mirip penyebabnya, yaitu karena BHD dipatok ke USD dan ekspor energinya stabil.
  3. Rial Oman (OMR). Nilainya sekitar 2,60 USD. Sebab, kebijakan moneternya konservatif dan kekayaan minyaknya berlimpah.
  4. Dinar Yordania (JOD). Nilainya sekitar 1,41 USD. Ini konsekuensi dari kebijakan fiskal yang disiplin dan bantuan internasional.
  5. Pound Sterling (GBP). Nilainya sekitar 1,32 USD. Status London sebagai pusat keuangan global sejak dahulu membuat Pound Sterling begitu kuat.
  6. Pound Gibraltar (GIP). Nilainya sekitar 1,26 USD. Mata uang ini terikat dengan Pound Sterling Inggris.
  7. Dolar Kepulauan Cayman (KYD). Nilainya sekitar 1,20 USD. Statusnya sebagai pusat keuangan lepas pantai (offshore) membuat KYD perkasa dibanding Dolar Amerika.
  8. Franc Swiss (CHF). Nilainya sekitar 1,11 USD. Faktor historis dan stabilitas politik Swiss membuat mata uangnya berdiri ajeg sebagai safe haven dunia.
  9. Euro (EUR). Nilainya sekitar 1,08 USD. Kekuatan ekonomi gabungan Uni Eropa yang banyak dihuni negara maju adalah alasan mata uang ini perkasa.
  10. Dolar AS (USD). Mata uang cadangan utama dunia dan paling banyak diperdagangkan.

Walaupun berada di peringkat ke-10, Dolar AS tetap menjadi mata uang paling berpengaruh karena digunakan di hampir 90% transaksi valuta asing harian dan mencakup mayoritas cadangan devisa dunia.

Mata uang seperti Dinar Kuwait bisa menjadi sangat kuat karena jumlah unit yang beredar relatif sedikit dibandingkan dengan nilai kekayaan negara yang mendukungnya.

Mata Uang Terlemah di Dunia (terhadap USD)

  1. Rial Iran (IRR). Satu USD setara kurang-lebih 1.300.000 IRR. Sanksi ekonomi berat dan inflasi tinggi menjadi biang keroknya.
  2. Pound Lebanon (LBP). Satu USD setara kurang-lebih 89.500 LBP. Ini akibat kebangkrutan sistem perbankan dan krisis politik.
  3. Dong Vietnam (VND). Satu USD setara kurang-lebih 26.000 VND. Kebijakan devaluasi ini disengaja untuk mendorong ekspor Vietnam.
  4. Sierra Leone (SLL). Satu USD setara kurang-lebih 23.000. Dampak keterpurukan pasca-Ebola dan ketergantungan komoditas.
  5. Kip Laos (LAK). Satu USD setara kurang-lebih 21.500 LAK. Utang luar negeri tinggi dan cadangan devisa rendah membuat mata uang Laos ini terus tiarap.
  6. Rupiah Indonesia (IDR). Satu USD setara kurang-lebih 16.800 IDR. Sejarah inflasi masa lalu masih berdampak hingga hari ini, meski kini lebih stabil.
  7. Som Uzbekistan (UZS). Satu USD setara kurang-lebih 12.700 UZS. Transisi ekonomi dan reformasi pasar.
  8. Franc Guinea (GNF). Satu USD setara kurang-lebih 8.500 GNF. Ketidakstabilan politik cukup berpengaruh, meski negara ini kaya sumber daya.
  9. Guarani Paraguay (PYG). Satu USD setara kurang-lebih 7.000 PYG. Tekanan fiskal dan inflasi regional memperparahnya.
  10. Ariary Madagaskar (MGA). Satu USD setara kurang-lebih 4.600 MGA. Ketergantungan negara pada pertanian dan kerentanan terhadap iklim membuat mata uangnya sulit menguat.

Kasus Rial Iran menunjukkan bagaimana geopolitik dapat menghancurkan nilai uang. Sanksi internasional yang memutus akses Iran ke sistem perbankan global menyebabkan Rial kehilangan nilainya secara drastis.

Sementara itu, Rupiah Indonesia masuk dalam daftar ini lebih karena faktor nominal historis. Meskipun demikian, ekonomi Indonesia jauh lebih stabil dan tumbuh lebih baik dibandingkan banyak negara lain dalam daftar tersebut.

7 Fakta Unik di Balik Uang

Uang bukan sekadar kertas biasa, melainkan produk teknologi dan seni yang luar biasa. Tahukah Ayah-Bunda….

  1. Uang kertas Dolar AS bukan terbuat dari kertas. Bahan utamanya 75% kapas dan 25% linen. Makanya, uang kertas tidak hancur saat tidak sengaja ikut tercuci. Kekuatan bahan ini memungkinkan selembar uang Dolar untuk dilipat hingga 8.000 kali sebelum akhirnya sobek.
  2. Peso Filipina (PHP) memegang rekor uang kertas terbesar di dunia dengan ukuran 35,6 x 21,6 cm (hampir selebar kertas HVS) yang dicetak pada 1998 untuk merayakan 100 tahun kemerdekaannya.
  3. Leu Rumania (RON) pernah mengeluarkan uang kertas terkecil di dunia pada 1917 dengan ukuran hanya 3,8 x 2,75 cm, atau kira-kira seujung ibu jari orang dewasa.
  4. Fitur keamanan mata uang modern tergolong canggih. Uang Euro, misalnya, menggunakan tinta khusus yang dapat berubah warna jika dilihat dari sudut yang berbeda, mirip dengan stiker hologram mainan anak-anak.
  5. Dolar Kanada (CAD) terbuat dari polimer plastik yang memiliki "jendela" transparan dengan gambar hologram yang sangat sulit dipalsukan.
  6. Desain uang Rupiah sering masuk dalam daftar mata uang tercantik di dunia karena detail desain budayanya yang rumit dan penggunaan warna yang cerah.
  7. Rata-rata uang koin bisa bertahan selama 25 tahun di peredaran, sementara uang kertas nominal kecil ($1, $5) biasanya hanya bertahan enam tahun sebelum harus diganti karena rusak.

Bagi keluarga muda, apalagi yang doyan traveling ke luar negeri, literasi keuangan global adalah investasi intelektual yang akan membekali si buah hati untuk kelak menjadi warga dunia yang cerdas.

Mata uang di setiap negara akan terus berevolusi. Di masa depan, anak-anak kita mungkin akan lebih sering bertransaksi dengan angka digital atau aset kripto daripada lembaran fisik kapas dan linen.

Namun, prinsip-prinsip dasar ekonomi tentang kelangkaan, nilai, stabilitas politik, kepercayaan masyarakat, dan kebijakan takkan pernah berubah.

Kuis Mata Uang Dunia

Waktu: 15s

Uji wawasan Anda tentang mata uang dunia! 10 soal akan muncul bergantian. Anda punya 15 detik untuk setiap soalnya.