Surga Jajanan di Kampung Kue Rungkut Surabaya
Pada Bulan Ramadan, setiap menjelang magrib, Kampung Kue Rungkut Surabaya tidak pernah lengang. Seolah lokasi ini bersaing dengan suasana jalan-jalan umum di Surabaya yang semarak oleh munculnya para penjual makanan.
Wajarlah bila di masa-masa ngabuburit ini, jalan-jalan lebih macet dari biasanya. Sebagian orang berburu takjil, atau istilah kerennya: takjil war! Dan salah satu pusat “pertempuran” itu ada di Kampung Kue Surabaya.
Sejarah Kampung Kue Surabaya

Dari gagasan seorang ibu bernama Choirul Mahpuduah, kisah Kampung Kue Rungkut berawal pada 2005. Ia ingin meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Mayoritas warga di sana adalah ibu rumah tangga. Beberapa baru saja di-PHK sebagai buruh, dampak dari buruknya kondisi ekonomi masa itu.
Bu Irul pun mengajak mereka membuka usaha menjahit pakaian. Bukan tanpa alasan, Kawasan Rungkut Lor sejak lama dikenal juga sebagai penghasil tekstil atau pakaian. Sayang, usaha ini tidak berlangsung lama dan hasilnya tidak sesuai harapan.
Aktifis yang pernah dipenjara karena memperjuangkan hak buruh ini kemudian memperhatikan beberapa warga yang berjualan kue. Melihat peluang di sana, ia banting setir mengajak tetangga-tetangganya untuk sekalian kompak memulai bisnis kue, sementara ia sendiri membuat konsep penjualannya.
Peran Choirul tidak hanya menggagas komunitas kampung kue ini, tetapi juga mengajak orang-orang untuk berinovasi dengan membuat ragam kue yang berbeda.
Demikianlah akhirnya terbentuk Kampung Kue Surabaya, atau juga biasa disebut Kampung Kue Rungkut. Keunikan-keunikan kudapan di sini lantas mencuri perhatian Pemkot Surabaya. Sehingga, pada 8 Februari 2022, Eri Cahyadi selaku Wali Kota Surabaya meresmikan Kampung Wisata Kue Rungkut Lor.
Daerah ini pun resmi menjadi salah satu kawasan wisata ikonik di kota pahlawan. Pelan-pelan, reputasi sentra produksi dan penjualan berbagai macam kue tradisional dan modern ini menyebar ke kota-kota lain.
Keunikan Kampung Kue Surabaya

Hari ini, Kampung Kue Surabaya telahah menjadi rujukan, minimal bagi warga Surabaya, yang rindu dengan kudapan-kudapan tradisional yang lezat. Kue-kue kering dan basah, nasi bungkus, beserta berbagai minuman segar bisa ditemukan di sini.
Ayah-Bunda sedang “mengidam” jajanan lumpia, kue lumpur, lemper, klepon, nagasari, donat, bahkan yang modern seperti almon krispi? Mampirlah! Harganya murah-murah, mulai dari Rp1.500.
Beberapa pelapak juga berusaha menjadi spesialis tertentu. Misalnya, ada satu rumah yang khusus membuat pastel, sehingga dinamai Rumah Pastel. Begitu juga dengan yang khusus membuat bronis atau kue lumpur.
Tidak menemukan kudapan favorit di satu lapak, silakan beralih ke lapak lain. Sepanjang gang ini, Ayah-Bunda takkan kehabisan pilihan. Di depan rumah-rumahnya, para warga yang sekaligus pedagang kue itu memajang aneka makanan yang menggiurkan.
Siapkan saja kocek yang sesuai kemampuan perut, hehehe. Oh ya, selain tunai, pembayaran juga bisa dilakukan melalui QRIS. Jadi, Ayah-Bunda tak perlu repot-repot ke ATM dahulu.
Yang unik, ketika kami tiba di sana, tidak tampak aroma persaingan, meski lapak mereka berdekatan. Mereka saling merekomendasikan. Bukan bersaing, mereka saling melengkapi. Toh, sama-sama mencari nafkah. Toh, sama-sama ingin lingkungan mereka, yakni Rungkut Lor, terkenal.
Kue-kue di sini fresh. Para pedagang mulai berproduksi di dapur mungkin sejak dini hari, karena Kampung Kue Surabaya sudah ramai pembeli mulai pukul 03.30. Tak heran, begitu tutup pukul 09.30 kue-kuenya sudah ludes terjual.
Kami pernah ke sana sekitar pukul 8. Para penjualnya sudah sedikit, dan variasi makanannya tinggal segelintir. Jadi, memang harus lebih pagi, ya, Ayah-Bunda. Dan dengar-dengar, sejak subuh pun sudah ramai pembeli!
Nah, selama bulan puasa, Kampung Kue Rungkut buka sejak pukul 15.00, untuk memfasilitasi para pembeli yang membutuhkan takjil. Mereka melayani baik dalam jumlah eceran, maupun pesanan partai besar.
Berburu Takjil di Kampung Kue Surabaya

Dari tahun ke tahun, di Bulan Ramadan, Kampung Kue tidak lantas tutup. Hanya jamnya yang digeser. Bakda Asar, para pencari takjil menyerbu tempat ini. Bahkan, kali ini Rumah Kue sedia minuman-minuman yang identik dengan menu buka puasa, seperti kolak, kolang-kaling, kacang ijo, teh dingin, dan sebagainya.
Enaknya berburu takjil di sini, kita seperti berada di one stop shopping. Jalan sepanjang 150 meteran ini layaknya pujasera saja. Kita tidak perlu berpindah-pindah lokasi untuk mendapatkan berbagai variasi menu kudapan.
Eh, bukan hanya kudapan atau makanan ringan, lo. Ayah-Bunda lagi malas masak? Kampung Kue Surabaya juga menyediakan aneka lauk pauk dan olahan sayur untuk menu berbuka puasa.
Meskipun harganya dibandrol murah, makanan-minuman di sini terjamin kualitasnya. Kami berempat sudah mencobanya berkali-kali. Lemper, donat, bronis, pastel, kue-kue asin, jajanan manis. Enak-enak semua, aman di perut, dan bikin nagih!
Lokasinya sendiri menarik. Kampung Kue Surabaya semarak tidak hanya oleh jajanannya, tetapi juga mural dan poster tentang berbagai macam kue. Meski sederhana, kampung ini tergolong “ramah kreator konten”.
Namun, kalau Ayah-Bunda datang dengan membawa kendaraan, parkirnya harus di luar kawasan ini. Kampung Kue Surabaya hanya muat dilalui sepeda motor. Bahkan jika sedang banyak pembeli, sepeda motor pun kesulitan berlalu-lalang.
Jangan lupa juga, karena tempat ini outdoor, antisipasilah turunnya hujan. Apa lagi belakangan, Surabaya kerap diguyur hujan deras menjelang sore hari, kan?
Kampung Kue Surabaya
- Alamat: Jalan Rungkut Lor gang II No. 1, Kelurahan Kali Rungkut, Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur 60293 (Google Maps)
- Jam Operasional: 03.30-09.30 WIB, 15.00-18.00 WIB (bulan Ramadan)
- HTM: Gratis