Mi Ayam: Menu Jalanan yang Murah, Enak, Kenyang

Table of Contents
Mi Ayam: Menu Jalanan yang Murah, Enak, Kenyang

Ketika jalan-jalan di luar, kami jarang makan di restoran atau kafe. Cukup makan di pinggir jalan, warung, atau depot. Praktis, hemat, tetapi tetap enak dan kenyang. Nah, di antara sekian banyak menu yang paling mudah ditemukan saat jalan-jalan adalah mi ayam.

Kebetulan, mi ayam adalah makanan favorit Yayah, Bunda, dan Kira. Ara kurang menyukainya. Namun, jangan khawatir, kalau sedang lapar, apapun dijamin ia sikat! Hehehe.

Asal-usul Mi Ayam

Sejak ribuan tahun yang lalu, mi atau “mien” dalam bahasa Mandarin telah dikenal di Tiongkok. Konon, mi pertama kali dibuat pada zaman Dinasti Han atau sekitar 2000 tahun yang lalu. Sebagaimana kita tahu, mi terbuat dari adonan tepung terigu yang dipotong memanjang dan direbus dalam air mendidih.

Semula, mi ini disajikan secara sederhana. Tidak memakai kuah. Hanya mi yang diberi topping daging, seperti babi kecap, atau biasa disebut bakmi.

Masyarakat Tionghoa yang menetap di Indonesia menyebarkan masakan tersebut. Lama-lama, makanan bakmi menjadi populer di kalangan orang Indonesia. Cita rasanya disesuaikan dengan lidah kita. Penggunaan daging babi diganti dengan ayam. Bumbu-bumbunya pun mengadaptasi bumbu semur khas Indonesia.

Biasanya, mi ayam di Indonesia disajikan dengan potongan ayam yang dibumbui kecap dan minyak ayam, yang terbuat dari campuran lemak ayam dan rempah-rempah (lada, jahe, dan kunyit), dan disajikan dengan kuah kaldu ayam.

Mi Ayam Paling Terkenal di Indonesia

Mi Ayam Paling Terkenal di Indonesia

Tidak heran kalau disebut mi ayam adalah salah satu makanan favorit orang Indonesia. Rasanya yang gurih dan segar, sedikit manis, kenyal dan padatnya mi, serta pedasnya sambal cabai rawit memanjakan lidah pelahapnya. Apalagi kalau disajikan hangat-hangat saat cuaca dingin. Wiiih….

Namun, tahukah Ayah-Bunda, mi ayam apa yang paling terkenal di Indonesia?

Ya, mi ayam Wonogiri!

Mi ayam ini ada di mana-mana. Dijual dalam gerobak biru, mi ayam ini memiliki cita rasa yang khas dengan kuah ayamnya yang kental, manis-gurih, dan berwarna cokelat pekat. Bumbunya meresap hingga ke dalam mi. Rempah-rempah seperti kemiri, kunyit, jahe, ketumbar, serta daun salam dan serai terasa dominan.

Belum lagi potongan daging ayamnya, dimasak gaya semur atau bacem dengan kecap manis khas Jawa Tengah. Daging ayam dipotong dadu atau dicincang halus, sering dimasak bersama ceker, kepala, atau tulang ayam hingga bumbunya meresap sempurna dan teksturnya sangat lembut.

Sebelum mi disajikan, mangkuk diberi racikan minyak kaldu ayam yang berempah, sedikit kecap asin, dan merica. Ketika mi hangat diaduk bersama topping ayam kental, minyak ini menciptakan aroma wangi gurih yang sanggup menerbitkan air liur.

Mi Ayam ala Homerie

Mi Ayam ala Homerie

Kalau bosan dengan menu masakan nasi, Bunda terkadang membuat mi ayam sendiri di rumah. Namun, tidak seperti mi ayam yang dijual mas-mas di pinggir jalan, mi ayam ala Homerie ini sangat sederhana.

Sementara mi ayam yang dijual di luar menggunakan mi basah, Bunda cukup menggunakan mi telur kering dalam kemasan.

Buat kami sendiri yang sedang berusaha menerapkan pola makan yang benar dengan mengurangi karbohidrat, mi telur atau mi basah bukanlah masalah besar. Yang wajib ada adalah protein hewaninya yang berasal dari daging ayam dan telur rebus, juga serat alias sayuran.

Bumbu-bumbunya pun tidak perlu sekental dan segurih mi ayam pinggir jalan. Untuk tumis daging ayamnya, Bunda cukup menggunakan bawang putih, bawang merah atau bombay, bawang daun, kunyit, jahe, garam, merica, kecap, dan gula merah.

Kuahnya? Cukup dibuat dengan merebus tulang daging ayam tanpa kulit (kadang pakai kulit ayam tetapi tidak banyak) dan menambahkan bawang putih, garam, serta merica. Hasilnya, kuahnya keruh karena tulang dan kulit ayam, tetapi tidak sekeruh kuah mi ayam di luar.

Kalau memungkinkan, kami akan menambahkan jamur sebagai protein nabati, baik itu jamur tiram maupun jamur kancing. Atau, ceker juga bisa. Namun, ini topping yang opsional saja.

Untuk penyajiannya, sama dengan mi ayam umumnya. Bedanya, mi kami tidak ditambahi minyak ayam, minyak sayur, ataupun minyak wijen. Cukup tata mi di mangkok beserta selada atau irisan sawi (bisa juga bayam brazil), topping daging ayam, ati, ampela, dan/atau telur rebus, lalu siram dengan kuah kaldu ayam.

Kalau mau pedas, bisa tambahkan sambal cabai rawit secukupnya. Selesai!

Nah, kalau Ayah-Bunda sendiri bagaimana mi ayamnya? Atau cukup membelinya di luar?