Menyambut Pagi di Atas Kereta Api Turangga New Generation
Sudah beberapa kali, kami naik Kereta Api Turangga untuk perjalanan Surabaya-Bandung. Meskipun belum pernah mencoba Turangga New Generation. Jadi kali ini, kami ingin menjajal Turangga Panoramic yang menjanjikan pemandangan luar yang lebih lega.
Namun, eh, ternyata keretanya berangkat malam hari! Kami pikir-pikir, “Buat apa naik kereta panoramic, kalau pemandangan di luar jendela serbahitam?” Salah-salah, kami melihat penampakan. Hahaha….
Jadi, kami pun menyimpan uangnya, lalu memesan Turangga Eksekutif yang biasa. Sekadar biar anak-anak tidak bosan, “Kok, kita naik KA Harina melulu kalau ke Bandung?” Lagi pula, kereta ini baru saja dimodernisasi menjadi Turangga New Generation.
Sejarah Kereta Api Turangga
Nama Turangga diambil dari kuda tunggangan para bangsawan Jawa. Kuda ini konon dapat berlari kencang dan tahan dalam berbagai situasi. Dengan mengambil nama ini, mungkin harapannya agar keretanya mampu melaju cepat mengatasi berbagai rintangan dalam perjalanannya.
KA Turangga pertama kali beroperasi pada 1 September 1995 untuk relasi Bandung-Surabaya dan sebaliknya. Pada awalnya, kereta api ini menyediakan layanan untuk penumpang kelas eksekutif dan bisnis.
Kelas Bisnis pada beberapa kereta api kemudian diubah menjadi Ekonomi Premium. Namun, Kereta Api Turangga, sejak 11 Oktober 1999, tidak mengenal kelas itu. Turangga hanya melayani Kelas Eksekutif.
Dan sejak tanggal 3 Juni 2023 atau dua hari setelah Gapeka 2023 diberlakukan, PT KAI meluncurkan rangkaian kereta panoramic untuk kereta api Turangga yang beroperasi secara regular. Namun, sampai sekarang, tahun 2026, kami belum pernah mencobanya, hehehe.
Jadwal, Rute, dan Harga Tiket KA Turangga New Generation

Kereta api Turangga beroperasi pada malam hari, kebalikan dari kereta Argo Wilis. Rute kereta api ini pernah diperpanjang hingga Stasiun Gambir pada 1 Desember 2019, dengan material kereta berbahan baja nirkarat (stainless steel).
Namun, beberapa bulan kemudian, tepatnya per 1 September 2020, rutenya dikembalikan seperti semula karena menurunnya tingkat okupansi penumpang akibat pandemi Covid-19.
Sebagai kereta api eksekutif, KA Turangga hanya berhenti di sedikit stasiun. Dari Surabaya Gubeng, KA Turangga bertolak pukul 20.00, dan tiba di Bandung pukul 06.10.
Jadwal keberangkatan itu, menurut kami, cukup nyaman. Tidak terlalu sore (jam macet pulang kantor), tetapi juga tidak terlalu malam. Turangga tiba di Bandung pagi hari, saat kereta-kereta komuter sudah mulai beroperasi dan warung-warung makanan sudah banyak yang buka. Ayah-Bunda takkan kelaparan di sekitar stasiun.
Sementara kalau dari Bandung, KA Turangga berangkat lebih awal, yakni pukul 17.40 dan tiba di Surabaya pukul 03.40 dini hari. Perbedaan 10 menit itu sepertinya konsekuensi dari jalur menuju Surabaya yang lebih ringan, karena tidak harus menanjak.
Sore hari sebetulnya waktu keberangkatan yang ideal. Namun, jam tibanya di Surabaya itu, lo, saat hari masih gelap. Bahkan azan subuh belum berkumandang. Alamat tidur dulu di stasiun. Hehehe.
Harga tiket kereta api berkecepatan 120 km/jam ini antara Rp600.000-Rp650.000. Kalau hari libur, harganya naik hingga mencapai Rp750.000. Menjelang libur akhir tahun atau hari raya malah bisa mencapai Rp790.000, kecuali kalau ada promo yang biasanya didapat melalui ticket war.
Itu untuk kelas eksekutif, ya, Ayah-Bunda. Untuk gerbong Turangga Panoramic, harganya sekitar Rp880.000-Rp1.100.000.
Fasilitas Kereta Api Turangga New Generation

Penumpang KA Turangga New Generation mendapatkan fasilitas yang sudah dimodernisasi, seperti: captain seat yang bisa diputar dan direbahkan dengan pijakan kaki, AC sentral, televisi, wi-fi, toilet terpisah laki-laki dan perempuan dengan pancuran pembasuh kaki (lebih enak buat wudu), dan stop kontak model tiga besi colokan (seperti di Amerika Serikat), tetapi tetap bisa untuk dua besi colokan.
Jendela Kereta Api Turangga New Generation ini lebar. Namun, sekali lagi, karena berangkat malam hari, kami hanya bisa menikmati pemandangan di pagi hari ketika kereta sudah menembus tanah Pasundan, tepatnya setelah Stasiun Cipeundeuy. Saat itu, langit berangsur terang.
Jendela sebelah kanan kereta, jika kita datang dari arah Surabaya, menampilkan barisan gunung yang berdiri di kawasan Garut.
Kalau cuacanya bagus, kita bisa melihat Gunung Cikuray dan Papandayan di kejauhan. Juga Gunung Guntur dan Mandalawangi. Di bawahnya, menghampar pesawahan, rumah-rumah penduduk, dan ladang. Dan di belakang semua itu adalah langit yang kemerahan karena terbitnya matahari.
Tahukah Ayah-Bunda, petak antara Leles, Kadungora, dan Lebakjero terkenal dengan pemandangan alamnya yang cantik.
Belum lagi lintasan kereta yang meliuk-liuk. Kalau Ayah-Bunda duduk di kereta depan atau belakang, akan tampak bagian belakang atau bagian depan kereta sedang berbelok. Pemandangan ini bahkan sudah ada sejak Stasiun Cipeundeuy.
Atau, mau melihat jalan lingkar Nagreg dari atas bukit? Beberapa hari menjelang Lebaran, biasanya lintasan ini macet. Ayah-Bunda bisa melihat pemandangannya sambil melaju dari dalam kereta api.
Nah, dari arah Surabaya, kalau ingin mendapatkan pemandangan yang indah seperti itu, Ayah-Bunda bisa memilih kursi sebelah kanan (kalau dari arah Bandung, pilih sebelah kiri, ya).
Oh ya, denah tempat duduk Kereta Api Turangga New Generation menggunakan sistem 2-2 atau AB-CD dengan kapasitas 50 tempat duduk (13 baris kursi).
Kereta Api Turangga New Generation
Dengan waktu tempuh 10 jam lebih 10 menit dari Surabaya menuju Bandung, dan 10 jam dari Bandung menuju Surabaya, rasanya kereta api ini sangat patut Ayah-Bunda coba. Sebanding dengan harga tiketnya! Fasilitasnya juga lumayan lengkap dan nyaman.
Kita tidak akan terganggu dengan barang bawaan penumpang yang bejibun, sekali pun itu masa mudik Lebaran. Kan, hanya ada 50 penumpang dalam satu gerbong! Penumpang kereta eksekutif juga biasanya lebih santun, tidak terlalu berisik.
Untuk makan, Ayah-Bunda bisa membawa bekal dari rumah. Makan di kereta eksekutif itu nyaman karena ada meja yang dilipat dan disembunyikan di lengan kursinya.
Atau, kalau Ayah-Bunda malas membawa bekal, beli saja di kereta makan (Restorka). Pesan secara daring melalui aplikasi Access by KAI juga bisa. Harganya? Tentu saja sebanding dengan kelas keretanya.
- Kelas: Eksekutif dan Panoramic
- Kapasitas Penumpang: 50 tempat duduk
- Harga Tiket: Rp600.000-Rp790.000 (eksekutif) dan Rp880.000-Rp1.100.000
- Rute: Surabaya Gubeng, Mojokerto, Jombang, Kertosono, Nganjuk, Madiun, Solo Balapan, Yogyakarta, Kutoarjo, Kebumen, Kroya, Banjar, Ciamis, Tasikmalaya, Cipeundeuy, dan Bandung
- Jam Operasional: Surabaya Gubeng-Bandung (20.00-06.10) dan Bandung-Surabaya Gubeng (17.40-03.40)