Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hotel Sanira Bandung: Penginapan Murah Tengah Kota


Hotel Sanira Bandung: Penginapan Murah Tengah Kota

Beberapa waktu lalu, Keluarga Kecil Homerie mudik ke kampung halaman Bunda di Kabupaten Bandung. Setelah itu, kami hendak bersilaturahmi ke keluarga Yayah di Kota Bandung. Karena ada satu dan lain hal, akhirnya kami memutuskan menginap di kota. Tepatnya di Hotel Sanira Bandung, atau dikenal juga dengan RedDoorz@Supratman Street.

Selain lokasinya yang dekat dengan stasiun dan tarif per malamnya murah (untuk sebuah rencana menginap dadakan), ada juga alasan nostalgia dan sentimental bagi Bunda. Terutama terkait wilayah Supratman ini.


Hotel Sanira Bandung: Penginapan dan Resto Jadi Satu

Hotel Sanira Bandung: Penginapan dan Resto Jadi Satu

Penginapan ini unik juga. Selain karena arsitekturnya khas bangunan-bangunan zaman Belanda, hotel bintang dua ini tidak berdiri sendiri, tetapi bersama Rumah Makan dan Kafe Liliwetan.

Makanya, sewaktu check-in, kami sempat bingung, di mana lobinya? Di halaman depan, memang terdapat papan bertulisan Hotel Sanira. Namun, ketika mencoba masuk gedungnya, kami malah disambut ruangan ala kafe dan restoran.

Tanya punya tanya, ternyata lobi hotel letaknya agak menjorok. Kami harus melewati teras dan ruang tamu yang terlihat cozy. Dan untuk masuk ke kamar-kamarnya, kami masih harus berjalan lagi melalui rumah makan.

Di dekat dapurnya, terdapat tangga menuju lantai dua. Di sanalah letak kamar-kamar Hotel Sanira Bandung. Ini membuat kami agak sungkan bila mau bolak-balik keluar hotel. Apalagi selama menginap, kami tidak pernah makan di sana, karena ingin menyantap hidangan lain.

Sebenarnya, praktis juga bila hotel dan rumah makan menjadi satu seperti ini. Apalagi Liliwetan Resto & Café menyajikan masakan Sunda dengan sistem prasmanan. Semua hidangan diletakkan di sebuah meja. Pengunjung tinggal mengambil sendiri dan membayarnya di kasir. Kalau mau masakan yang hangat, bisa minta dipanaskan.

Namun, kalau menunya itu-itu saja, kami rasa tidak terlalu berbeda dengan masakan di rumah orang tua Bunda. Maklum, hampir dua pekan kami di Bandung dan setiap harinya makan masakan Sunda. Kami ingin variasi menu.

Akhirnya, sore-sore kami keluar untuk jalan-jalan. Tidak jauh dari hotel, terdapat Pusat Dakwah Indonesia (Pusdai). Ada banyak penjual makanan di sana, tetapi kami lewatkan karena kami punya destinasi wisata: Museum Geologi dan Museum Pos.

Sayang keduanya sudah tutup, karena sudah lewat pukul tiga sore. Karena Bunda pernah mengunjungi kedua museum itu, jadi tidak kecewa-kecewa amat. Yayah, Ara, dan Kiralah yang menyayangkan kenapa tidak datang lebih awal.

Sebagai gantinya, kami bermain-main saja di Taman Lansia yang terletak di seberang Museum Geologi. Sekalian membeli makan malam.

Kamar Model Lawas Hotel Sanira Bandung

Kamar Model Lawas Hotel Sanira Bandung

Hotel Sanira Bandung memiliki tiga lantai, dan semua kamar saling berhadapan, seperti kos-kosan. Kamar kami berada di lantai dua, Tipe Family. Ukurannya cukup luas.

Secara umum, desain interiornya kurang estetik. Padahal, dengan arsitektur zaman kolonial, hotel ini seharusnya berpotensi mengesankan. Apa boleh buat, lawas di sini tidak identik dengan nyeni, tetapi malah terkesan jorok: tembok kusam, lantai menghitam di pinggir-pinggirnya, air kurang bersih, pipa berkarat, dan sebagainya.

Fasilitas di dalam kamar kami antara lain:

  • Ranjang ukuran queen
  • Meja rias dan kursi
  • Meja besar untuk kerja
  • Smart TV
  • AC
  • Lemari pakaian
  • Kamar mandi dengan pancuran, keran, wastafel, ember, dan gayung
  • Sabun dan sampo (dalam satu botol yang sama)

Hawa sejuk Bandung membuat kami tidak memerlukan AC. Keran air panas di kamar mandi berfungsi, sehingga kami bisa mandi air hangat setiap waktu.

Kamar mandi itu juga cukup luas. Ada jendela tinggi yang menghadap belakang gedung. Tinggal jinjit, kami sudah bisa melihat pemandangan tanah kosong dan atap rumah penduduk sekitar. Tidak terlalu indah, tetapi cukup untuk memberi kesan luas dan lega.

Hotel Sanira Bandung tidak menyediakan handuk, tetapi ada gantangan untuk membentangkan handuk (atau pakaian basah) yang kami bawa.

Wi-fi? Ada. Namun, mengaktifkannya harus disertai dengan menyalakan AC. Ketika AC dimatikan, wi-fi juga mati.

Lokasi Penginapan Yang Strategis

Lokasi Penginapan Yang Strategis

Jalan Supratman, Bandung, sangat sejuk berkat pepohonan besar yang berdiri di sepanjang pinggir jalan. Sejak dahulu, Bunda suka daerah ini. Ramai, tetapi tidak kumuh. Daerah ini juga yang menjadi salah satu lokasi novel yang kami tulis bersama, Satin Merah.

Ketika masih kuliah, Bunda sering melewati jalan ini. Kampus Bunda di Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Namun, satu atau dua kali dalam sepekan, Bunda harus kuliah di Centre Culturel Français (CCF), atau sekarang bernama Institut Français d'Indonésie (IFI).

Dari Jatinangor, Bunda dan teman-temannya biasanya naik Bus Damri rute Jatinangor-Dipati Ukur atau bus biru (sebutan untuk bus kampus dengan rute yang sama), dan melewati Jalan Supratman ini. Jadi, saat kami menginap di Hotel Sanira Bandung, Bunda lumayan bisa bernostalgia.

Lokasi Hotel Sanira sendiri cukup strategis, dekat dengan tempat-tempat wisata:

  • Masjid Pusdai (Pusat Dakwah Indonesia) berjarak 800 meter
  • Taman Lansia berjarak 1.000 meter
  • Gedung Sate berjarak 1.100 meter
  • Museum Geologi berjarak 1.100 meter
  • Museum Pos berjarak 1.200 meter

Jadi kalau bosan di hotel, Ayah-Bunda dapat mengunjungi tempat-tempat penting tersebut. Bahkan pada Minggu pagi, kita bisa berbelanja di pasar kaget di lapangan Gasibu, depan Gedung Sate.

Selain dekat dengan tempat-tempat wisata, Hotel Sanira Bandung juga cukup dekat dengan Universitas Padjadjaran. Memang, semua fakultas sudah pindah ke Jatinangor, tetapi perhelatan wisudanya masih digelar di Dipati Ukur.

Di sekitar penginapan, juga ada Togamas, apotek, rumah makan, depot, warung, ATM, dan sebagainya. Dijamin, Ayah-Bunda takkan bingung makan apa.

Akses menuju penginapan berbintang dua ini mudah. Jarak Stasiun Kiaracondong dan Stasiun Bandung Hall masing-masing tiga kilometer saja. Lokasinya yang di pinggir jalan besar pun akan memudahkan Ayah-Bunda untuk menemukan Hotel Sanira Bandung. Tempat parkirnya juga cukup luas dengan sistem keamanan 24 jam.

Hotel Sanira Bandung

Hotel Sanira Bandung

Di luar desainnya yang agak kuno dan kurang bersih, Hotel Sanira Bandung cukup kami rekomendasikan bagi Ayah-Bunda sekeluarga yang ingin menginap murah-meriah di tengah kota Bandung.

  • Akomodasi bintang 2
  • Alamat: Jalan Supratman No. 37, Kelurahan Cihapit, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40114 (Google Maps)
  • Telepon: +62 22 7208480

Posting Komentar untuk "Hotel Sanira Bandung: Penginapan Murah Tengah Kota"