4 Alasan Kenapa Lebih Baik Berwisata Bersama Keluarga
Di masa muda, berwisata bersama keluarga terlihat seperti konsep yang membosankan. Lebih menantang jika kita menggendong ransel sendirian, menjelajahi sudut-sudut kota atau desa tanpa perencanaan apa-apa, sembari menikmati kebebasan ala petualang. Lapar, tinggal makan. Belum lapar, lanjut bersenang-senang.
Ya, Yayah dan Bunda juga pernah di fase itu. Seiring berjalannya waktu, terbentuklah keluarga kecil di sekitar kami. Opsi bepergian sendiri masih terbuka lebar. Ayah atau Bunda bisa saja jalan-jalan solo untuk me-time atau us-time. Barangkali akan asyik juga.
Namun, itu tidak lagi kami lakukan. Saat anak-anak masih kecil begini, sebisa mungkin, kami selalu prioritaskan berwisata bersama keluarga. Mengapa?
1. Berwisata Bersama Keluarga Itu Lebih Hemat
Banyak yang menganggap biaya berwisata bersama keluarga lebih mahal ketimbang piknik secara solo. Kalau dilihat dari total uang yang keluar dari dompet, asumsi ini memang benar. Empat pengeluaran jelas lebih besar daripada satu pengeluaran.
Namun, jika kita menghitungnya dari nilai per kepala, berwisata bersama keluarga justru lebih hemat. Banyak pos pengeluaran yang bisa kami tekan karena sistem berbagi. Misalnya, menyewa satu kamar hotel tipe keluarga sering lebih murah dibandingkan harus membayar tarif per orang di beberapa kamar terpisah.
Kami pernah melakukannya di Malang, Jember, Yogyakarta, dan lain-lain. Biaya akomodasi benar-benar lebih hemat!
Begitu pula dengan urusan kuliner. Biasanya, ada paket keluarga yang lebih murah. Kalaupun tidak ada, kita tetap bisa melakukan “subsidi silang”. Kalau di keluarga kami, Kira yang makannya paling sedikit, biasanya akan memberikan sebagian porsinya kepada anggota keluarga lainnya yang belum kenyang.
Biaya taksi daring pun menjadi lebih ekonomis karena kapasitas kendaraan terisi penuh oleh anggota keluarga sendiri. Anggaran yang dikeluarkan rasanya menjadi sepadan dengan fasilitas dan kenyamanan yang didapatkan oleh semua anggota keluarga.
Bandingkan dengan bila kita rekreasi sendiri-sendiri. Perhatian kita akan terpecah. Pengeluarannya juga bercabang. Bayangkan seandainya ayah yang berwisata dahulu, karena memang yang lain belum waktunya liburan. Tentu sang ayah tetap harus menyiapkan uang makan untuk yang di rumah, selain untuk dirinya sendiri.
Begitu juga kalau Bunda yang liburan dahulu, atau anak-anak dahulu. Kita harus sedia uang untuk tim di jalan (yang sedang rekreasi), sekaligus untuk tim di rumah. Pengeluaran yang awalnya satu, kini bercabang jadi dua, atau bahkan lebih.
Itu baru makanan. Belum pengeluaran untuk hal-hal lainnya, seperti transportasi, internet, sabun untuk mencuci baju, dan sebagainya. Saat berpisah, masing-masing anggota keluarga memiliki pengeluarannya. Seperti kata pepatah, “Bersatu kita untung, bercerai kita limbung.”
2. Berwisata Bersama Keluarga Itu Minim Kecerobohan
Bersama keluarga, memang beban kita bertambah banyak, Ayah-Bunda. Baik itu beban benda, maupun anggota keluarga yang lain.
Namun, justru dengan banyak kepala itulah, kita bisa saling mengingatkan, sehingga terhindar dari kecerobohan-kecerobohan yang tak perlu. Misalnya, salah naik taksi daring, keliru tanggal ketika memesan tiket, lupa membawa cas ponsel, dan sebagainya.
Satu anggota lupa, masih ada yang lain untuk mengingatkan. Meskipun tetap saja bisa semuanya lupa, hahaha.
Saat tersesat di jalan pun, ada beberapa kepala yang ikut berpikir. Mungkin satu orang lupa jalan tersebut, tetapi yang lain ada yang ingat. Bukankah ini lebih menenangkan? Beban menjadi terurai. Dan kalaupun tetap tersesat, kita dapat saling menghibur dengan mengobrol, bercanda, atau berktivitas bersama.
Intinya, peluang survive kita di tempat asing lebih baik ketika berwisata bersama keluarga dibandingkan dengan melakukan perjalanan wisata sendirian.
3. Membangun Kenangan Bersama
Waktu berkualitas (quality time) bersama keluarga sering tergerus oleh urusan pekerjaan atau sekolah, atau sekadar rasa lelah. Nah, berwisata bersama keluarga adalah obatnya.
Selama perjalanan, kita saling mengobrol, bermain, juga bekerja sama. Mulai dari menjaga barang bawaan, memutuskan tempat makan siang, atau lainnya. Diskusi-diskusi kecil di dalam kendaraan atau di kamar hotel juga menjadi lebih berkesan dan intim.
Kisah-kisah yang selama di rumah disembunyikan bisa jadi muncul spontan di tengah suasana akrab semacam ini, Ayah-Bunda.
Misalnya, cerita kekonyolan Ara di organisasinya di sekolah. Atau ketika melihat pemandangan kebun kersen dari jendela kereta, Ayah tiba-tiba teringat dan menceritakan masa kecilnya yang pernah memanjat pohon kersen tetangga dan tak mau pulang seharian.
Barang elektronik bisa rusak, mainan mahal bisa berakhir di tong sampah, kendaraan dan rumah bisa menyusut nilainya seiring berjalannya waktu. Namun, memori indah tentang berwisata bersama keluarga akan tetap tersimpan di benak setiap anggota keluarga hingga puluhan tahun.
Kenangan saat Ayah-Bunda menggandeng tangan buah hati menyusuri jalanan setapak atau momen ironis saat Yayah terpeleset setelah mengingatkan “Hati-hati, jalannya licin!” akan menjadi bahan cerita yang selalu hangat untuk dibahas, bahkan saat mereka tumbuh dewasa nanti.
Makin banyak memori semacam ini, makin bahagia serta kokoh fondasi emosional anak-anak. Mereka akan tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka dicintai dan memiliki keluarga yang selalu menyediakan ruang untuk bersenang-senang bersama.
Kami dahulu pernah berpendapat, sebaiknya uang ditabung agar bisa berwisata bersama keluarga di tempat yang lebih keren, kalau perlu di luar negeri.
Namun, kami kemudian sadar, waktu tidak bisa diulang. Dan waktu itu berjalan cepat sekali. Anak-anak dengan cepatnya tumbuh. Kita tak tahu kapan momen itu terjadi, tetapi anak-anak pasti akan menjauh dari kita suatu saat nanti.
Jadi, selagi sempat, mari berwisata bersama keluarga. Sesering mungkin! Saat ini ada bujet berapa, tinggal kita sesuaikan saja tujuan wisatanya. Yang terpenting adalah memori kebersamaannya, bukan mewahnya atau jauhnya.
4. Berwisata Bersama Keluarga adalah Sarana Edukasi Anak
Di jalan, sebagian besar orang tidak saling mengenal. Jadi, kita benar-benar harus mandiri. Berwisata bersama keluarga memberi Ayah-Bunda kesempatan emas untuk mengajari buah hati hal-hal teknis. Mulai dari cara mengantre, membeli tiket di lokasi wisata, prosedur naik pesawat, sampai check-out hotel.
Anak-anak juga akan melihat bagaimana orang tuanya berinteraksi dengan budaya yang berbeda, menghormati perbedaan, serta mengatasi kendala komunikasi dengan penduduk lokal. Misalnya, bagaimana bertanya jalan kepada penduduk sekitar, mengobrol dengan sopir Gocar, atau sekadar memberi kursi sesama penumpang kereta komuter.
Menunjukkan teladan positif ini jauh lebih efektif daripada sekadar memberikan nasihat teoretis di rumah.
Melalui perjalanan bersama, buah hati juga dilatih untuk bersabar dalam menghadapi penundaan jadwal keberangkatan, mengantre panjang, atau menunggu hujan reda. Mereka belajar bahwa dunia tidak selalu berputar mengikuti keinginan mereka, bahkan keinginan orang tuanya.
Pengalaman-pengalaman kecil seperti ini secara tidak langsung membentuk karakter anak menjadi pribadi yang lebih toleran, tangguh, dan fleksibel dalam menghadapi perubahan situasi di masa depan.
Bukan hanya pembelajaran searah dari orang tua ke anak. Bisa juga pembelajaran itu terjadi secara horizontal dari ayah ke ibu, atau ibu ke ayah. Bahkan, bisa juga dari anak ke orang tua. Di jalan, siapapun harus siap belajar dari siapapun.
Itulah empat alasan mengapa setiap kali sempat, kami memilih untuk melakukan perjalanan bersama keluarga. Mungkin Ayah-Bunda mau menambahkan alasan lain? Atau justru lebih suka berwisata sendirian?
