Pijat Telapak Tangan yang Membuat Rileks

Ziarah ke Taman Bungkul Surabaya

Ziarah ke Taman Bungkul Surabaya

Surabaya tidak memiliki tempat yang disebut alun-alun. Namun, bila itu harus ada, barangkali Taman Bungkul inilah yang paling pantas. Sebab, posisinya di tengah kota, strategis (meski jauh dari stasiun), cukup luas untuk menampung aktivitas akbar warga, ada masjidnya, juga fasilitas-fasilitas yang memadai.

Bolak-balik, Keluarga Kecil Homerie mengunjungi taman yang keren ini. Tidak ada bosan-bosannya.

Namun, kenapa namanya Bungkul?

Nama tersebut sebenarnya diambil dari Mbah Bungkul, tokoh yang berpengaruh dalam penyebaran agama Islam di kawasan Surabaya (Ampeldenta). Beliau ulama besar di Zaman Majapahit, atau sekitar abad XV.

Taman Bungkul Tempo Dulu

Nama Taman Bungkul diambil dari Sunan Bungkul alias Ki Ageng Supo

Nama asli Mbah Bungkul adalah Ki Ageng Supo. Beliau kemudian mendapat gelar Sunan Bungkul. Status Ki Ageng Bungkul adalah saudara ipar sekaligus guru dari Raden Rahmat alias Sunan Ampel. Beliau ayah dari Dewi Wardah yang kemudian dinikahkan dengan Raden Paku alias Sunan Giri yang berkedudukan di Gresik.

Makam Sunan Bungkul berada di kawasan sini juga. Wah, tamannya seram, dong? Kalau pertanyaan itu diajukan sebelum tahun 2007, memang benar.

Pada siang hari, taman ini merupakan destinasi alternatif ziarah Wali Songo. Tidak terlalu terlihat seram. Paling-paling, hanya kumuh.

Namun, Taman Bungkul malam hari sungguh terlihat muram, gelap, dan menyeramkan. Penerangannya tidak memadai. Hanya ramai ketika ada acara pengajian, tadarusan, atau tahlilan. Selebihnya, yang datang kemari hanya PKL, remaja pacaran, pengamen, pengemis, atau gelandangan yang menumpang tidur.

Begitulah gambaran Taman Bungkul waktu itu.

Taman Bungkul Hari Ini

Taman Bungkul Surabaya Hari Ini

Sejak diresmikan pada 21 Maret 2007 dan direvitaliasi pada 11 Agustus 2009, Taman Bungkul seperti menjelma sebuah taman kota yang modern. Fasilitas-fasilitas yang dibangun dari CSR perusahaan-perusahaan swasta dan BUMN membuatnya semakin dicintai warga, antara lain:
  • Toilet laki-laki dan perempuan
  • Alat-alat fitnes luar ruangan
  • Pujasera atau sentra PKL dengan jajanan khas Surabaya, seperti rawon, rujak cingur, lontong mi, lontong balap, semanggi, dan sebagainya
  • Wi-fi gratis (disediakan oleh Telkom)
  • Keran minum gratis atau tap water (disediakan oleh PDAM Surabaya)
  • Playground atau wahana permainan: ayunan, prosotan, panjatan, dan lain-lain
  • Amfiteater berdiameter 33 meter untuk pagelaran outdoor
  • Jogging track
  • Skateboard track
  • BMX track
  • Reflexology track (jalur yang penuh kerikil untuk menekan titik-titik refleksi telapak kaki)
  • Air mancur
Daya pikat utama tetap dipertahankan, yaitu taman yang rindang dengan aneka jenis pohon serta bunga (khas Wali Kota Tri Rismaharini), Makam Mbah Bungkul, dan masjid. Walaupun kecil, tetapi masjid ini nyaman. Yayah menyukai lantainya yang mengilap tetapi kesat, seperti ada lapisan lilinnya.

Bila Ayah-Bunda merasa kurang leluasa atau terlalu berdesak-desakan, sekitar 300 meter dari Taman Bungkul terdapat Masjid Al-Falah yang jauh lebih luas.

BMX Track dan Skateboard Track

Pada 2013, Taman Bungkul memperoleh penghargaan The 2013 Asian Townscape Award dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai taman terbaik se-Asia.

Fasilitas-fasilitas keren yang sudah diganjar penghargaan itu tetap ada dan berfungsi baik hingga hari ini. Keluarga Kecil Homerie yang mengunjungi taman ini setiap bulannya adalah saksi.

Oh ya, sejak sekitar satu dasawarsa silam, Taman Bungkul juga tempat mangkalnya mobil SAMSAT dan SIM Keliling. Asyik, kan? Sambil rekreasi gratis, sambil memperpanjang SIM atau STNK.

Taman Bungkul Pernah Rusak

Taman Bungkul yang cantik ini pun pernah rusak

Ketika Taman Bungkul sedang cantik-cantiknya, sempat terjadi insiden. Tepatnya pada hari Minggu, 11 Mei 2014, perusahaan es krim Wall's dari PT Unilever Indonesia, Tbk. mengadakan acara bagi-bagi es krim gratis di Taman Bungkul ketika Car Free Day (CFD).

Sayangnya, pihak panitia tidak mengantisipasi antusiasme warga pagi itu. Es krim yang dibagikan 10.000 buah, tetapi pengunjung yang berebut sekitar 70.000 orang. Maka terjadilah insiden itu. Taman Bungkul rusak parah. Warga yang antre sampai menginjak-injak tanaman, jalanan menjadi macet, sehingga polisi lantas membubarkan acara itu sekitar pukul 10.00.

Beberapa saat kemudian, Wali Kota Risma datang dan marah-marah ke panitia, "Kalian tahu berapa lama waktu yang kami butuhkan untuk membuat Taman Bungkul jadi indah, hah?!" dampratnya.

Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya lalu melaporkan penyelenggara Bagi-bagi Es Krim ke jalur hukum dengan Undang-undang (UU) Pengrusakan Lingkungan. Syukurlah, insiden itu tidak berbuntut panjang. Unilever Indonesia menyatakan siap menanggung semua kerugian di Taman Bungkul.

Taman Bungkul juga asyik dibuat piknik bersama keluarga

Ingin tahu bagaimana asyiknya Taman Bungkul untuk rekreasi keluarga? Tonton, yuk, video Keluarga Kecil Homerie ini:


Taman Bungkul Surabaya

  • Taman Kota (town square)
  • Selesai Dibangun: 21 Maret 2007
  • Revitalisasi: 11 Agustus 2009 oleh Wali Kota Surabaya, Drs. Bambang Dwi Hartono, Mpd.
  • Jam buka: 24 jam
  • Alamat: Jalan Taman Bungkul, Kelurahan Darmo, Kecamatan Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur 60241, Indonesia (Google Maps)
  • Luas: ± 900 meter persegi
  • Harga Tiket Masuk: gratis

Komentar