Merasakan Kehidupan di Atas Kereta Api Kahuripan

Table of Contents
Merasakan Kehidupan di Atas Kereta Api Kahuripan

Beberapa kali, kami naik kereta api bersubsidi Pasundan untuk rute Surabaya-Bandung dan sebaliknya. Dari Bandung ke Cicalengka pun sering naik komuter Bandung Raya. Kali ini, kami menjajal Kereta Api Kahuripan dari Stasiun Kiaracondong ke Kertosono.

Naik kereta api eksekutif atau ekonomi premium memang lebih nyaman. Dengan suasana yang tenang dan waktu tempuh yang lebih pendek, kita pasti bisa lebih menikmati perjalanan. Terutama bagi anak-anak.

Akan tetapi, menurut Yayah dan Bunda, sesekali buah hati juga harus merasakan “asyiknya” naik kereta api ekonomi bersubsidi atau Public Service Obligation (PSO) ini. Supaya mereka tahan banting dan belajar untuk menerima keadaan, sekalipun jika itu kurang nyaman.

Mengapa Memilih Kereta Api Kahuripan

Alasan lain kami menumpang kereta api ini adalah untuk menjajaki alternatif jalur Surabaya-Bandung atau Bandung-Surabaya, selain KA Harina, Pasundan, Turangga, Mutiara Selatan, dan Argo Wilis. Eits, tetapi jangan salah, ya. KA Kahuripan tidak singgah di Surabaya.

Untuk mengakali itu, kata seorang teman, kita bisa estafet naik kereta api. “Dari Surabaya naik komuter ke Kertosono (dua jam). Dari sana, sambung dengan Kereta Api Kahuripan rute Blitar-Kiaracondong (12 jam),” terangnya.

Ini jatuhnya memang jauh lebih murah dibanding tiket kereta langsung dari Surabaya ke Bandung atau sebaliknya.

Yayah dan Bunda sempat bengong. Bagaimana menentukan jam keberangkatan komuter yang tepat supaya tidak harus menunggu lama di Stasiun Kertosono?

Dan masalahnya ternyata bukan hanya itu. Kami tidak tahu tiket kereta api mana yang harus dipesan terlebih dahulu: komuternya atau Kahuripannya?

Tiket komuter hanya dibuka seminggu sebelum keberangkatan, dan itu cepat habis. Namun, jika beli itu dulu dan ternyata tiket Kahuripannya yang habis, juga lucu. Mau apa di Kertonono?

Jadi, meskipun cara bepergian ini murah, tetapi durasinya belasan jam dan sangat berisiko. Pemesanannya harus benar-benar akurat. Ini checklist-nya:

  1. Dapat tiket Kahuripan untuk 4 orang (tak boleh berpisah-pisah kursinya)
  2. Dapat tiket Kereta Komuter Penataran untuk 4 orang yang jadwal keberangkatannya tidak terlalu jauh dari kedatangan Kahuripan.

Karena tujuan kami Surabaya, kami akan turun di Stasiun Kertosono, tepat sebelum kereta berbelok menuju Blitar, dengan tarif tiket Rp84.000 atau dianggap jarak terjauh. Murah, kan?

Saking murahnya tiket kereta Kahuripan, calon penumpang harus saling berebut (war). Kalau mau menumpang kereta api ini, baik untuk mudik-balik Lebaran maupun sehari-hari, pastikan Ayah-Bunda pesannya jauh hari, sebelum kehabisan.

Apalagi mengingat stasiun pemberhentian KA Kahuripan sangat banyak. Yang artinya, banyak juga calon-calon penumpang dari berbagai kota atau stasiun itu.

Fasilitas Kereta Api Kahuripan

“Kahuripan” dalam bahasa Sunda artinya “kehidupan”. Selain itu, ada juga nama kerajaan di Jawa Timur yang bernama Kahuripan. Kerajaan yang didirikan oleh Airlangga pada 1009 ini merupakan kelanjutan dari Kerajaan Medang yang runtuh pada 1006.

Kereta Kahuripan mulai beroperasi pada 26 Juli 1995. Awalnya, kereta api yang memiliki jarak tempuh 700 kilometer ini memiliki rute Stasiun Kediri-Pasar Senen via Kiaracondong. Lalu, berdasarkan Gapeka 1 April 2013, rutenya diperpendek hanya sampai Stasiun Kiaracondong.

Tempat duduk Kereta Api Kahuripan adalah 3-2, saling berhadapan dengan kapasitas 106 kursi tiap keretanya.

Jenisnya bukan captain seat, ya. Tidak ada sandaran lengan yang bisa memisahkan antar penumpang. Jadi kalau ketiduran, siap-siap saja jatuh ke bahu penumpang lain. Atau mungkin bahu Ayah dan Bunda yang kejatuhan kepala penumpang lain, hehehe.

Siap-siap juga untuk duduk tegak selama perjalanan, adu dengkul dengan penumpang yang duduk di hadapan, dan terimpit oleh banyaknya barang bawaan penumpang lain. Bagasi di atas kursi takkan cukup, terpaksa barang-barang bawaan “dipajang” di dekat pintu kereta atau bordes.

Fasilitas lainnya yaitu toilet, AC, dan kereta makan. Kalau malas pindah ke kereta makan karena takut tempat duduknya ditempati orang lain, pesan saja melalui pramusaji yang wara-wiri menjajakan aneka makanan dan minuman.

Kehidupan di dalam Kereta Api Kahuripan

Keadaan di KA Kahuripan sudah bisa kami bayangkan sebelumnya, berbekal pengalaman naik KA Pasundan yang lama (bukan New Generation). Namun, tetap saja, kami terkejut dengan suasananya yang ramai dan fasilitas-fasilitas kereta yang seolah membuktikan pepatah, “Ada harga, ada barang.”

Bayangkan, toiletnya seret air, lorong keretanya penuh barang bawaan para penumpang. Belum lagi AC yang makin siang suhunya bukannya makin dikecilkan, malah dibesarkan. Ketika malam hingga subuh, indikator AC sentral menunjukkan 26 derajat Celsius. Eh, tambah siang, malah jadi 28 derajat!

Kita tahu, semua kelas kereta melarang penumpangnya untuk merokok, baik di dalam kereta maupun di bordes. Maka tidak heran saat kereta berhenti cukup lama di beberapa stasiun, para penumpang laki-laki turun untuk merokok. Saking banyaknya yang merokok di luar, asapnya tercium sampai di dalam kereta.

Kalau pemandangan di luar? Rasanya, sama saja dengan kereta-kereta lain, bahkan yang eksekutif. Justru pemandangan unik Kereta Kahuripan ada di dalam kereta itu sendiri.

Ada penumpang yang mengadu ke polsuska terkait kursinya yang ditempati orang lain. Ada bapak-bapak paruh baya yang kebingungan mencari tempat duduk sesuai kereta, dan akhirnya duduk di nomor yang bukan untuknya.

Ada juga bapak-bapak lansia dan istrinya yang naik di Stasiun Lempuyangan Yogya, dengan bawaan banyak dan terburu-buru. Orangnya masih terlihat energik, kuat, dan tegas. Lalu setelah dua stasiun berikutnya, kira-kira di Purwosari Solo, ia berkemas-kemas lagi. Ternyata, tujuannya Jakarta. Salah kereta, dong!

Lah! Kok, bisa naik masuk peron dan naik ke KA Kahuripan? Ada-ada saja.

Memang, kalau Ayah-Bunda mau menyerap banyak cerita masyarakat, bukan sekadar tidur dan menikmati pemandangan, pilihlah KA Kahuripan. Sebab, kereta-kereta PSO dijamin kaya akan cerita-cerita semacam itu.

Kereta Api Kahuripan

  • Kelas: PSO atau Ekonomi Bersubsidi 
  • Harga Tiket: Rp80.000-Rp84.000 
  • Kapasitas Penumpang: 106 
  • Rute: Blitar, Tulungagung, Kediri, Kertosono, Nganjuk, Caruban, Madiun, Barat, Paron, Walikukun, Sragen, Kemiri, Purwosari, Klaten, Lempuyangan, Wates, Kutoarjo, Gombong, Maos, Langen, Banjar, Ciamis, Tasikmalaya, Cipeundeuy, Cibatu, dan Kiaracondong. 
  • Jam Operasional: Kiaracondong-Blitar (22.20-12.05), Blitar-Kiaracondong (17.10-07.15)