Aroma Rindu Kampung Halaman di Stasiun Cicalengka (CCL)
Kampung halaman Bunda berada di Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung. Setiap kali mudik, kami biasa menumpang kereta api. Namun, tidak pernah sekali pun kami turun langsung di Stasiun Cicalengka (CCL), karena sampai saat ini, tidak ada kereta api rute Surabaya-Bandung yang berhenti di stasiun tersebut.
Paling-paling, kami pernah turun di Stasiun Nagreg. Itu pun tidak direncanakan sebelumnya. Ketika itu, kami naik KA Pasundan sampai Stasiun Kiaracondong (KAC). Kebetulan, keretanya berhenti di Stasiun Nagreg (NG). Daripada harus ke Kiaracondong lalu kembali lagi ke Cicalengka, kami turun saja. Hitungannya, lebih dekat ke Cicalengka!
Stasiun Cicalengka di kampung halaman Bunda ini sekarang sudah berbenah. Bangunannya sudah modern. Rasanya, hampir tidak percaya kalau ini dahulunya adalah stasiun kecil dan dekil.
Sejarah Stasiun Cicalengka
Terletak di ketinggian +689 mdpl, Stasiun Cicalengka termasuk dalam Daerah Operasi (DAOP) II Bandung. Inilah salah satu stasiun utama di Kabupaten Bandung yang masih aktif dan merupakan stasiun terminus (pemberhentian awal dan akhir) bagi perjalanan Commuter Line Bandung Raya, serta salah satu stasiun pemberhentian bagi perjalanan Commuter Line Garut.
Pembukaannya bersamaan dengan selesainya pembangunan jalur kereta api Priangan Tahap V pada 10 September 1884. Awalnya, Stasiun Cicalengka memiliki tiga jalur kereta api dengan jalur 2 merupakan sepur lurus (jalur yang tidak berbelok, digunakan oleh kereta api yang lewat atau melaju cepat tanpa berhenti di stasiun tersebut).
Saat proyek pembangunan jalur ganda, Stasiun Cicalengka mengalami perombakan jalur besar-besaran. Hasilnya, jumlah jalur di stasiun ini bertambah dua, dengan jalur 3 dan 4 yang juga merupakan sepur lurus.
Stasiun Cicalengka 1990-an sampai 2000-an
Kira-kira, Bunda mulai suka naik kereta api sejak umur sembilan tahun. Ketika itu, ada dua jenis kereta api jurusan Bandung: KRD Ekonomi Bandung Raya dan KRD Patas.
Bunda suka memilih yang Patas. Selain karena cepat (hanya berhenti di Stasiun Cicalengka, Rancaekek, dan Bandung), juga karena suasananya lebih nyaman, meskipun harga tiketnya tentu lebih mahal.
Yang membuat Bunda malas, waktu itu, adalah suasana stasiunnya. Benar, Stasiun Cicalengka itu dahulu kumuh dan semrawut! Jalan di depan stasiun sempit. Di pinggir-pinggirnya, selain banyak tukang ojek dan angkot yang mangkal, juga delman. Belum lagi yang jualan makanan dan mainan.
Sempit, kumuh, kotor, dan bau. Terutama di musim hujan.
Antrean loketnya juga panjang. Tidak cukup sampai di loket, antrean itu tetap mengular saat kita boarding.
Tiket kereta api lokal waktu itu seukuran kartu domino dan tebal (KRD ekonomi warna putih, KRD Patas warna hijau). Sebagai tanda kalau calon penumpang sudah masuk stasiun, petugas peron akan melubangi tiket itu.
Di dalam stasiun, di peron-peron, termasuk di dekat rel tengah, banyak calon penumpang menunggu datangnya kereta. Yang tidak kebagian tempat duduk, terpaksa berdiri, entah itu sendirian maupun bergerombol. Mereka mengobrol sambil merokok.
Kalau musim libur sekolah atau hari raya, niscaya tambah ramai! Tiap ada kereta api lewat, petugas sibuk memberi peringatan kepada calon penumpang agar menjauh dari rel. Banyak calon penumpang yang sulit diatur, padahal itu demi keselamatan mereka sendiri.
Begitu kereta api yang mereka nantikan tiba, tanpa memedulikan penumpang yang hendak turun, calon penumpang itu berlomba-lomba naik kereta demi segera mendapatkan tempat duduk. Jadi, bisa dibayangkan betapa buntunya pintu kereta saat itu.
Malah, menurut cerita orang, mereka yang tinggal di daerah Haurpugur (stasiun setelah Stasiun Cicalengka) dan hendak ke Bandung naik KRD ekonomi, rela naik dari Stasiun Cicalengka supaya tidak perlu rebutan tempat duduk di Stasiun Haurpugur.
Kekisruhan semacam ini terjadi sampai sekitar 2011.
Perbaikan Sistem di Stasiun Cicalengka

Bunda sendiri yang masuk tim mengalah dan pasrah berdiri di dalam kereta, kadang memilih naik KRD Patas yang lalu bertransformasi menjadi KRD Baraya Geulis (“baraya” merupakan akronim dari Bandung Raya atau bisa juga berarti “saudara”, sementara “geulis” berarti “cantik”).
Rutenya juga diperpanjang sampai Padalarang. Namun, kalau waktunya kurang tepat, terpaksa Bunda berdesakan dengan penumpang-penumpang KRD Ekonomi.
Baru sekitar tahun 2018, ketika kami berempat mudik ke Cicalengka dan hendak jalan-jalan ke Bandung, tahu-tahu tidak ada lagi KRD Baraya Geulis. Satu-satunya kereta api dari Cicalengka ke Bandung adalah KRD Bandung Raya.
Sudah ada sedikit perubahan di Stasiun Cicalengka. Calon penumpang harus mendahulukan penumpang yang turun atau berhenti di stasiun itu. Selama penumpang belum turun, pagar yang membatasi stasiun dengan peron ditutup dan dijaga petugas.
Konon, beberapa tahun sebelumnya pernah sampai ada beberapa orang yang melempar batu ke kantor Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) sebagai aksi protes atas kebijakan baru ini.
Aturan ini berlaku sampai tahun 2023. Tahun berikutnya, Stasiun Cicalengka direnovasi.
Stasiun Cicalengka Hari Ini

Renovasi pada 2024 menghadirkan fasilitas baru: skybridge, jembatan penyeberangan yang melayang di atas rel stasiun. Renovasi ini sempat menuai protes dari Lingkar Literasi Cicalengka karena bangunan lama Stasiun Cicalengka dibongkar, padahal ada nilai historis yang panjang di sana.
Namun, renovasi tetap berjalan. Sebagai jalan kompromi, bongkaran bangunan lama dibangun ulang dan direlokasi 200 m di sebelah timur bangunan baru stasiun, tepatnya di atas sebuah lahan kosong yang terletak di dekat tikungan arah Nagreg.
Selain adanya skybridge dan perubahan sistem layanan di stasiun, terutama saat boarding, sistem persinyalan di Stasiun Cicalengka sudah diubah dari mekanik menjadi elektrik.
Pengaktifan jalur ganda di petak jalan Cicalengka-Haurpugur lantas menyusul di tahun yang sama. Mungkin sebagai evaluasi dari tragedi tabrakan antara KA Turangga dan KRD Bandung Raya pada 5 Januari 2023.
Dari renovasi itu, Stasiun Cicalengka pun berubah menjadi lebih gagah, kokoh, dan aman. Meski banyak juga yang mengeluh lelah karena harus naik-turun skybridge.
Bagaimanapun, model stasiun seperti ini lebih aman. Calon penumpang tidak harus menunggu kereta lewat dahulu untuk menyeberang rel. Bahkan, semua fasilitas stasiun seperti tempat menunggu, toilet, dan musala, semua berada di skybridge.
Calon penumpang juga bisa lebih leluasa melihat pemandangan sekitar Cicalengka dengan area sawah dan pegunungan melalui jendela skybridge.
Tempat parkir mobil dan sepeda motor juga tersedia di area depan stasiun. Area parkir sepeda motor mungkin lebih luas karena banyak calon penumpang menitipkan sepeda motornya dan berangkat kerja menggunakan kereta-kereta komuter.
Kereta-kereta yang Melewati dan Berhenti di Stasiun Cicalengka
Hanya ada dua kereta yang berhenti di sini: komuter Bandung Raya dan komuter Garut. Pada 2022 lalu, KA Cikuray pernah berhenti di stasiun ini.
Sebuah keberuntungan bagi Keluarga Kecil Homerie yang hendak bersilaturahmi ke kediaman seorang tante di Bekasi, karena tidak harus jauh-jauh naik kereta dari Kiaracondong atau Stasiun Bandung dahulu.
Sebelum itu, pada 2019, bahkan KA Kahuripan berhenti di sini juga. Saat itu, kami memanfaatkannya untuk bertamasya ke Ngawi.
Sebenarnya, Cicalengka adalah jalur yang lumayan strategis. Meskipun hanya segelintir kereta yang berhenti, tetapi banyak juga kereta yang lewat sini. Hampir semua kereta api yang melintasi jalur selatan Pulau Jawa melalui stasiun ini. Sehingga, baik di dalam maupun di luar stasiun, suasananya selalu ramai.
Apapun itu, bagi kami Stasiun Cicalengka adalah lambang kegembiraan. Turun dari kereta, makin dekat langkah kami untuk bertemu keluarga. Tetapi dengan bangunan yang baru ini, kami jadi merasa lebih aman dan nyaman.
Belum lagi hawa tanah Priangan yang sejuk sangat berbeda dengan Surabaya yang panas.
Anak-anak, terutama Kira, kadang malah naik skybridge sambil berlari dengan kereta yang melaju di bawahnya. Terkadang, berkejar-kejaran dengan ayahnya, yang sudah pasti ngos-ngosan karena mengejar-ngejar anak kecil gesit sambil membawa tas besar. Semua ini menambah keceriaan kami di stasiun kecil ini.
Saran untuk Pengelola

Jika Ayah-Bunda sedang merencanakan liburan, tidak ada salahnya menjadikan Cicalengka sebagai salah satu destinasi wisata. Mobilitas kereta apinya tidak pernah berhenti karena setiap hari ada komuter mengangkut para pekerja atau mahasiswa dari atau menuju kawasan Bandung.
Stasiunnya sekarang besar dan nyaman. Mungkin ke depannya, yang harus dibenahi atau ditambah adalah fasilitas bagi lansia atau kaum difabel yang tidak menggunakan kursi roda. Mungkin mereka bisa dipermudah dengan lift agar tidak bermasalah melewati jembatan langit itu.
Selain itu, jalan untuk naik skybridge juga kurang kesat. Agak licin. Jadi, meskipun tampak nyaman dan aman, tetap harus hati-hati saat menggunakannya.
Selebihnya berasal dari pelanggan. Apakah mereka mau merawat bangunan yang sudah diperbarui ini? Misalnya dengan menjaga kebersihan dan ketertiban. Karena jawaban dan tindakan mereka juga akan menentukan kelangsungan Stasiun Cicalengka ke depannya.
Stasiun Cicalengka, Bandung
- Alamat: Jalan Raya Cicalengka-Majalaya, Cikuya, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat (Google Maps)
- Jam Operasional: 04.00-23.00
- Kereta yang Berhenti: Commuter Line Bandung Raya dan Commuter Line Garut
- Kereta yang Melewati: Argo Wilis, Turangga, Mutiara Selatan, Pasundan, Serayu, Lodaya, Malabar, Cikuray, Kahuripan.