Gado-gado: Saladnya Orang Indonesia
Selain mi ayam, ada lagi kuliner yang kami cari kalau sedang jalan-jalan: gado-gado. Di Surabaya, makanan ini cukup banyak ditemui, meski tidak sebanyak mi ayam atau bakso. Ini salah satu makanan Indonesia yang disukai orang luar juga, lo.
Tidak hanya isinya yang bermacam-macam (lontong, sayuran, tahu, tempe, telur rebus), gado-gado juga beragam rasanya. Asam dari tomat, segar dari selada, juga manis dan gurih dari bumbu kacangnya. Hm, sudah terbayang lezatnya, kan, Ayah-Bunda?
Asal-usul Gado-gado
Konon, gado-gado dibuat tanpa sengaja. Pada abad ke-17, pasukan Kesultanan Mataram yang dipimpin Sultan Agung hendak menyerbu Batavia. Di tengah perjalanan, mereka kehabisan bahan makanan, terutama beras. Mereka tidak menemukan lumbung beras di mana-mana, karena sudah dibakar oleh VOC.
Karena hanya ada kacang tanah, para prajurit pun membuat sambal bumbu kacang. Tidak dimakan begitu saja, tetapi disiramkan ke berbagai sayuran mentah yang sebelumnya mereka temukan di sekitar persawahan dan perkebunan yang mereka lewati.
Demi bertahan hidup, apa pun yang bisa dimakan, mereka makan meski tanpa nasi. Dalam bahasa Jawa, cara memakan lauk pauk dan sayuran tanpa nasi (karbohidrat) ini disebut nggadho.
Namun, kalau sekarang, gado-gado sudah lengkap dengan lontong dan kentang, karbohidrat pengganti nasi. Sudah begitu, pakai kerupuk pula. Apakah makan gado-gado di zaman now masih layak dibilang menggado lagi?
Masih, sih!
Karena orang Jawa seperti tidak mengenal karbohidrat. Makan apapun jika tanpa nasi, tetap belum dianggap makan. Hitungannya masih dianggap menggado, hehehe….
Sejarah versi lain mengatakan, ini berhubungan dengan banyaknya variasi bahan makanan yang dimasukkan ke dalam seporsi gado-gado. Beberapa orang menganggap, gado-gado berasal dari bahasa Portugis, gadu, yang berarti makanan yang dicampur-campur.
Gado-gado Surabaya vs Gado-gado Jakarta
Sebenarnya selain gado-gado, ada banyak masakan yang menggunakan bumbu kacang di Indonesia. Di Jakarta, misalnya, ada ketoprak. Di Jawa Barat, ada lotek dan karedok. Di Jawa Timur, ada pecel dan tahu tek. Di Semarang, ada tahu gimbal.
Gado-gado sendiri tidak cuma ada di Surabaya. Di Jakarta juga ada, Ayah-Bunda. Meski begitu, keduanya tidak sama, terutama soal bumbu kacangnya.
Di Jawa Timur, tepatnya Surabaya, bumbu gado-gado tidak dibuat dadakan. Kacang yang sudah dihaluskan akan dimasak bersama santan supaya gurih. Nantinya, bumbu ini tinggal dituang atau disiramkan ke makanan yang sudah siap di piring. Makanya, gado-gado mereka sering juga disebut gado-gado siram.
Sementara di daerah Jawa Tengah hingga Jakarta, bumbu gado-gado selalu dibuat dadakan. Tidak melibatkan santan juga, sehingga menghasilkan cita rasa yang lain dibandingkan gado-gado Jawa Timur.
Penyajiannya pun berbeda. Di Jakarta atau gado-gado Betawi, bumbu kacang yang sudah diulek halus dicampur dengan sayuran rebus langsung di dalam cobek. Sama seperti lotek di Jawa Barat.
Untuk isi gado-gadonya sendiri hampir sama. Sayuran yang digunakan biasanya taoge yang sudah diseduh hingga lunak, selada (lettuce), mentimun, dan tomat. Untuk proteinnya, kita bisa menemukan potongan telur rebus, tempe, dan tahu goreng. Sebagai karbo, ada kentang rebus, lontong, dan kerupuk.
Karena domisili kami di Surabaya, pastinya gado-gado Surabaya atau Jawa Timur yang sering kami lahap. Rasanya memang gurih dengan bumbu kacang bersantannya, dan segar karena sayuran mentahnya berlimpah.
Kenapa Gado-gado Menjadi Makanan Favorit Kami?
Jika kami sedang bepergian dan mencari makan, lalu menemukan aneka penjual makanan seperti mi ayam, bakso, siomay, nasi goreng, dan gado-gado, kami lebih memilih gado-gado. Kecuali kalau sedang mengidam yang lain.
Gado-gado termasuk makanan jalanan yang relatif lebih sehat, dan tetap mengenyangkan. Isinya memang kebanyakan sayuran, makanya gado-gado disebut juga saladnya Indonesia. Sementara, protein hewaninya hanya sedikit, yakni berupa tiga atau empat iris tipis telur rebus.
Namun, justru karena sayurannya yang banyak itulah, jadinya terasa mengenyangkan. Apalagi sayuran mentah. Kandungan gizinya masih murni, asalkan dicuci dengan bersih. Bumbu kacang juga punya andil dalam membuat perut kenyang.
Memang, sih, kandungan gulanya cukup banyak, sehingga kurang sehat juga. Akan tetapi, manis itulah yang membuat anak-anak jadi lahap menyantap aneka sayuran dalam gado-gado.
Kalau gado-gadonya dibuat sendiri di rumah, sayurannya bisa lebih bervariasi lagi. Misalnya dengan menambahkan wortel, atau mengganti selada dengan bayam brazil hasil kebun sendiri. Kriuknya sama! Kandungan gizinya pun setara.
Di gado-gado buatan sendiri, telur rebus pun bisa lebih diperbanyak. Minimal, satu orang satu butir. Terasa lebih puas dan kenyangnya lebih awet.
Kalau Ayah-Bunda sendiri, apakah penggemar ini juga? Mari kita cintai kuliner Nusantara.